Rabu, 31 Januari 2018

Masjid Jami' Daarul Khairat Laksanakan Shalat Gerhana Bulan

DKM-DK. Ba'da Shalat Isya berjamaah DKM DK melaksanakan Sholat Gerhana (Khusuf) sehubungan dengan terjadinya peristiwa Gerhana Bulan pada malam ini (Rabu, 31/01/2018). Bertindak sebagai imam shalat dan khatib adalah Ust. Sunardi, S.E.

Dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa shalat sunnah gerhana (khusuf) dikerjakan dalam 2 rakaat. Yang membedakan sunnah gerhana dengan sholat 2 rakaat pada umumnya adalah pada bacaan surah, ruku’ dan sujudnya yang lama, serta setiap rakaat terdiri dari 2 kali ruku’, sehingga 2 rakaat terdiri dari 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud.

Hal ini berdasarkan Hadits :
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian ruku’ dengan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya, namun tidak selama yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dan memanjangkan lama ruku’nya, namun tidak selama ruku’ nya yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, beliau kemudian mengerjakan rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali. Kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak." (HR. Al-Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 1499).


>>> Apakah Peristiwa Gerhana Berhubungan Dengan Peristiwa Kematian atau Kelahiran Seseorang?

Dalam khutbahnya, Ust. Sunardi menyampaikan, bahwa pada sistem kepercayaan beberapa masyarakat jaman dahulu di berbagai belahan dunia, termasuk pada saat masyarakat Arab jahiliyyah, meyakini peristiwa gerhana dengan hal-hal yang tidak masuk akal dan sekedar dongeng.
Bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang mengaitkan peristiwa gerhana bulan maupun matahari dengan peristiwa kematian maupun kelahiran seseorang.

Kepercayaan dan pendapat masyarakat ini pun pernah terjadi di masa Rasulullah, seperti dijelaskan oleh beliau dalam Hadits :

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu terjadi gerhana matahari. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berjalan cepat sambil menyeret selendangnya hingga masuk ke dalam masjid, maka kamipun ikut masuk ke dalam masjid. Beliau lalu mengimami kami shalat dua rakaat hingga matahari kembali nampak bersinar. Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan berdoalah hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 1040)

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi gerhana matahari, yaitu pada hari wafatnya Ibrahim (putra Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dari Mariyah Al-Qibthiyah). Lalu orang-orang berkomentar : "Telah terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim." 
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidup seseorang. Jika kalian melihat keduanya (terjadi gerhana), maka segera berdoa kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.” (WA/DK)


********


SHOLAT GERHANA (Khusuf) BULAN
Rabu malam Kamis, 31 Januari 2018 (14 Jumadil Ula 1439 H)

A. Waktu :

  • WIB mulai pk: 18:48 sd pk.22:11 (puncaknya)
  • WITA mulai pk: 19:48 sd pk.23:11 (puncaknya)
  • WIT mulai pk: 20:48 sd pk.00:11 (puncaknya)

B. Tata Cara :
Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 raka’at.
setiap rakaat dilakukan dengan 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud.

Adapun cara mengerjakannya adalah sbb:
  1. Berniat
  2. Takbiratul Ihram;
  3. Membaca Doa Istiftah & Berta'awudz;
  4. Membaca Alfatihah;
  5. Membaca Surat yang Panjang yang dikeraskan (HR.Bukhori No. 1065, dan Muslim No. 901);
  6. Ruku' (dianjurkan yang lama);
  7. Bangkit dari Ruku' (I'tidal);
  8. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, tetapi tetap Berdiri, Membaca Alfatihah kembali;
  9. Membaca Surat (yang lebih singkat dari sebelumnya);
  10. Ruku' lebih Singkat dari sebelumnya;
  11. Bangkit dari Ruku' (I'tidal);
  12. Sujud yang lamanya seperti Ruku';
  13. Duduk diantara 2 Sujud dan Sujud Kembali;
  14. Bangkit dari Sujud lalu melanjutkan Rakaat kedua seperti Rakaat Pertama;
  15. Tasyahud;
  16. Salam.

C. Khutbah :
Di sunnahkan ada khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar dan bersedekah.

D. Dalil:
  1. Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)
  2. Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
  3. Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-Shalatu jamiah". (HR. Bukhari).
Ust. Guntur dari Sumber: Ajakan dari Kemenag, https://kemenag.go.id/berita/read/506697/akan-terjadi-gerhana-bulan-total--kemenag-ajak-umat-islam-salat-khusuf


Jamaah shalat khusuf "DK" 31/01/2018. 

Khutbah

Jamaah akhwat
*****
Foto: ust.rosa herdiansyah dok.
Bidang Takmir & Ibadah (Endang Suprapto)
Bidang Dakwah & PHBI (Guntur Widodo)

2 komentar:

  1. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan barokah-Nya kepada kita semua, aamiin

    BalasHapus