Selasa, 30 Juni 2020

Profil DKM Daarul Khairat

 


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang 



YAYASAN MASJID JAMI DAARUL KHAIRAT

SK KEMENKUMHAM RI No. AHU-0023409.AH.01.04.Tahun 2021 Kepala Desa Mangunjaya 


PEMBINA :
  1. Kepala Desa Mangunjaya 
  2. Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Mangunjaya 
  3. Kepala Dusun II Desa Mangunjaya 
  4. Ketua RW 21

DEWAN PENASEHAT :


-
    KETUA DKM :

    >>  H. Arif Armansyah


    KETUA I :
    >> H.M. Dulfi
    Ketua I membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Zakat, Infaq, Shadaqah (     )
    2. Bidang Takmir & Ibadah (     )
    3. Bidang Dakwah & PHBI (     )
    4. Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (     )
    5. Bidang Majelis Taklim (     )

    KETUA II :
    >> H. Arif Armansyah
    Ketua II membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Humas & Publikasi (     )
    2. Bidang Sosial Kemasyarakatan (     )

    KETUA III : >> H. Sujono
    Ketua III membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Pengadaan, Pemeliharaan Aset & Perpustakaan Masjid (Susilo)
    2. Bidang Pembangunan dan Pembangunan (Sartono)
    3. Bidang Keamanan & Ketertiban (Gatot Yuwono)

    BENDAHARA : 

    >> H. In'am


    SEKRETARIS :

    1. Achmad Chartim
    ❋❋❋❋❋

    PANITIA PEMBANGUNAN MASJID :
    Sejak tahun 2008 sampai dengan hari ini, Majid Jami Daarul Khairat masih terus melakukan pengembangan / pembangunan fisik. Panitia pembangunan masjid adalah sbb :

    > Koordinator : H. Sujono
    > Ketua Pelaksana : Sartono Azis
    > Sekretaris : Swasihono Heriwibowo
    > Bendahara : H. Mulyanto

    2008 
    2018 


    ❋❋❋❋❋


    BADAN KONTAK MAJELIS TAKLIM (BKMT)

    Ketua BKMT : Nana Robiana


    (....dalam proses pengumpulan bahan.......)

    Kamis, 11 Juni 2020

    TAMAK : Ciri Hati yang sedang Turun

    Renungan Shubuh
    Kamis/11/06/2020
    Oleh Ahmad Rusdi

    Mengawali renungan kita yang akan membahas indikator ketiga dari hati seseorang yang sedang turun sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali, saya awali dengan kutipan sebuah hadits rasulillah SAW yang masyhur di tengah kita, yaitu:

    لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ 
    “Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.” (Muttafaq ‘alaih).

    Hadits di atas menggambarkan sifat tamak yang merupakan indikator ketiga dari hati yang turun. Kecintaan manusia kepada harta tidak jarang membuat seseorang menjadi buta hati yang akhirnya menjadikan ia tamak dan rakus terhadap harta. Dan memang manusia itu punya kecenderungan cinta kepada harta.

    Firman Allah dalam surat al-'Adiyat menggambarkan hal tersebut.
    "wa innahu lihubbil khori lasyadid”, sesungguhnya manusia itu sangat cinta kepada harta. 
    Hanya hendaknya kita tidak lupa bahwa ungkapan harta di ayat tersebut menggunakan kata “al-khair”, yang secara bahasa bermakna kebaikan
    Disamping itu dalam bahasa Arab kata "harta" juga menggunakan istilah --dan ini yang lazim kita kenal-- “mal” ( مال) yang secara bahasa berasal dari kata مال–يميل-ميلا yang berarti cenderung/condong. Jadi memang manusia itu condong/cenderung dan suka dengan harta.

    Penggunaan kata “al-khair” untuk harta mengisyaratkan bahwa harta itu sesungguhnya baik. 
    Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk memperolehnya dengan cara yang baik dan menggunakannya juga dengan baik. 
    Dalam konteks inilah kita bisa memahami sabda Rasulillah SAW : 
    "ni’ma al-malu al-sholeh fi al-mar-i ash-sholih", sebaik baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang sholeh/orang yang baik. (Ja’alanallahu wa iyyakum min ash-sholihin… amiin).
    Lah kok jadi bicara harta…..
    Ya mau tidak mau, karena bicara tamak tidak terlepas dari harta. Bukankah harta merupakan salah satu ujian umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang beliau sabdakan:

    إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ
    “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.”
    (HR. Tirmidziy, Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali  menjelaskan  tamak dengan mengutip pendapat Sayyidina Umar ibn al-Khattab yang mengatakan bahwa:
    “Tamak adalah kefakiran dan putus asa darinya adalah kekayaan. Karena siapa yang berputus asa/tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, niscaya dia tidak akan membutuhkannya”

    Jadi sejatinya orang yang tamak itu adalah fakir, karena dirinya masih butuh dengan harta, bahkan bukan hanya sekedar butuh dalam batas yang wajar tapi butuh yang melampaui batas. Sehingga hatinya hanyut pada keduniaan dan hartanya yang akhirnya membuat ia sibuk dengan selain Allah SWT. Dan ketika hati kita sibuk dengan selain Allah itulah pertanda bahwa hati kita sedang turun ( وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى ).

    Dengan uraian di atas bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bagaimana mungkin kita meninggalkan dunia sementara dunia adalah ladang tempat kita beramal dan akhirat tempat kita memanen hasilnya. Hanya yang perlu kita fahami adalah bahwa dunia ini semacam bandara kehidupan, kita hadir di dunia ini tidak lama, lalu kita akan pergi meninggalkannya menuju kehidupan akhirat yang abadi. Untuk itulah hendaknya kita jangan terlalu sibuk dengan dunia yang membuat kita lalai dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
    “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi).

    Supaya kita tidak lalai, maka nilai keimanan, ketakwaan dan pemahaman ilmu agama terutama yang terkait dengan tazkiyatun nafsi (pensucian jiwa) menjadi sangat penting dalam mengarungi kehidupan di dunia sehingga dengan demikian kita menyadari bahwa dunia itu sarana kita untuk memperoleh ridho Allah SWT. Bila kita memperoleh ridho-Nya insyaa Allah nanti kita akan mendapatkan pahala/ganjaran yang terbaik dari Allah SWT di yaumil qiyamah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menjelaskan surat al-Qoshshos ayat 77:                             
     استعمل ما وهبك الله من هذا المال الجزيل والنعمة الطائلة، في طاعة ربك والتقرب إليه بأنواع القربات، التي يحصل لك بها الثواب في الدار الآخرة
    “Pakailah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu dari harta yang berlimpah dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada-Nya dengan berbagai macam ketaatan. Yang dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.”                                                 
    اللهم لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا 
    ALLAHUMMA LA TAJ’ALID DUNYA AKBARO HAMMINA WA LA MABLAGHO ‘ILMINA
    “Ya Allah Jangan Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar, jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.”
    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar tidak terlalu panjang renungannya.
    Semoga bermanfaat.
    *Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh keempatbelas, 11062020)

    Jangan Sibuk Dunia Lupa Akhirat – SUARAISLAM.ID


    Materi sebelumnya :



    Rabu, 10 Juni 2020

    RIYA, Ciri Hati yang Sedang Turun

    Renungan Shubuh
    Rabu, 10 Juni 2020
    Oleh K.H. Ahmad Rusdi

    Kemarin kita membahas tentang ‘ujub dan kali ini kita akan bahas masalah riya yang merupakan indikator kedua dari hati yang sedang turun (Khofdh al-Qolbi) menurut Imam al-Ghazali.

    Kalau kita buka kamus Lisan al-‘Arab, kata riya mengandung arti menunjukan suatu perbuatan secara berlebihan demi mendapatkan ketenaran.  Sementara Imam al-Ghazali  dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin-nya  mendefinisikan sebagai amal yang dilakukan dengan tujuan disaksikan orang lain agar mendapatkan kedudukan dan pepularitas.  Secara sederhana dapat digambaarkan, riya itu terjadi  ketika kita  melakukan  suatu perbuatan bukan karena mengharap ridha Allah, tetapi karena ingin dilihat orang lain agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau popularitas.

    Lawan dari  riya adalah ikhlas. Ketika kita beribadah semata karena Allah bukan karena faktor lain di luar Allah SWT, itulah yang namanya ikhlas. Terkait dengan ikhlas ini ada penjelasan menarik dari imam an-Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoih al-‘Ibad. Beliau membagi ikhlas dalam tiga tingkatan yang semuanya masih masuk dalam kategori ikhlas:

    Tingkatan ikhlas yang pertama,


    فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق  العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

    “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya kecuali (hanya) melaksanakan perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

    Ini tingkatan ikhlas yang tertinggi dimana seorang hamba melakukan amal ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Tak terpikir sama sekali pada dirinya tentang balasan atas amal ibadahnya itu. Bahkan ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Yang Ia harapkan hanya ridho Allah SWT.

    Tingkatan ikhlas yang kedua:

     والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

    “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”

    Pada tingkatan kedua ini seorang hamba melakukan amal ibadahnya karena Allah namun di balik itu ia masih memiliki keinginan agar dengan amal ibadahnya tersebut ketika  di akherat nanti,  ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT dengan memperoleh kenikmatan surga yang Allah janjikan dan terhindar dari azab api neraka.

    Muncul pertanyaan, memang tidak boleh beramal ibadah dengan motivasi seperti ini dan apakah itu tidak termasuk ikhlas?  Beramal ibadah dengan motivasi seperti tersebut di atas masih termasuk ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang benar-benar ikhlas, sebagaimana yang digambarkan oleh Prof Dr. KH. Quraish Shihab, dimana ikhlas itu bagaikan air bening yang berada dalam gelas yang tidak terkotori sedikitpun, jadi murni dan jernih semata karena Allah. Tapi keihlasan tingkat kedua ini masih diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah juga sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan diberikan harapan mendapatkan pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat nanti.

    Tingkatan yang ketiga:

     والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

    “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

    Inilah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana dalam melakukan amal ibadah seseorang melakukannya karena Allah namun ia berharap dengan amal ibadahnya tersebut kan mendapatkan imbalan  yang bersifat duniawi. Misalnya beribadah melakukan sholat malam/tahajjud karena berharap memperoleh kemuliaan di dunia, melakukan sholat dhuha dengan harapan diluaskan rizkinya dan lain sebagainya.

    Beribadah dengan kondisi seperti tingkatan ketiga ini masih  dikategorikan ikhlas dan syah saja, karena memang ajaran agama juga memberikan tawaran hal tersebut untuk memotivasi umatnya, namun yang perlu difahami  ialah bahwa beribadah dengan motivasi seperti tersebut di atas tingkatan keikhlasannya paling rendah.


    Yang tidak boleh adalah ketika kita beramal ibadah dengan niat dan motivasi selain tiga hal tersebut di atas, yang dikategorikan oleh imam an-Nawawi sebagai riya.
    وما عدا ذلك رياء مذموم
    Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

    Adapun ciri orang yang pada dirinya ada riya, mengutip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagaimana teradapat dalama kittab Majmu’ah Tsaman Rosail Syafiiyah Mufiydah yang dikarang oleh asy-Syaikh ‘Alwi bin Ahmad ats-Tsaqqaf, adalah:

      وقال سيدنا علي بن أبي  طالب رضي الله عنه : لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

    “Berkata Sayyidina ‘Ali RA: Orang riya’ memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci.”

    Agar terhindar dari penyakit riya, berikut tips yang hendaknya kita lakukan antara lain:

    1. Melawan getaran hati yang mengajak untuk riya. Di sini kita berusaha semaksimal mungkin melawan bisikan dan ajakan setan yang memang ingin agar amal ibadah kita tidak bernilai. Untuk itulah kita harus merawat niat keikhlasan. Bila sudah mulai ada godaan, kembalikan niat kita memang hanya untuk Allah.
    2. Perbanyak doa dan minta perlindungan kepada Allah. Karena niat itu terletak di hati dan hati itu milik Allah maka kita kembalikan kepada-Nya dengan berdoa agar terhindar dari riya yang merupakan syirik khofiy, syirik yang tersembunyi. Adapun doanya sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhori adalah sebagai berikut:
    أَيهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ الله أَنْ يَقُولَ: وَكَيفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخفَى مِنْ دَبِيب النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللهِ؟! قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنا نَعُوذُ بِكَ مِن أَنْ نُشرِكَ بِكَ شَيئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا نَعْلَمُ
                                                                                                                                                     
    “Wahai manusia, takutlah kalian pada syirik ini karena ia lebih samar dari pergerakan semut. Kemudian ada seorang bertanya, ‘Bagaimana cara kami terhindar darinya, sementara ia lebih samar dari pergerakan semut, wahai Rasulullah?.
    Nabi Saw menjawab, ‘Ucapkanlah; ‘Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astagfiruka lima la a’lamu.’ (ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu di saat aku mengetahui dan aku memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang aku tidak ketahui).”

    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar  tidak terlalu panjang renungannya.
    Semoga bermanfaat.
    Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi (Renungan Shubuh ketigabelas,  100062020)


    Materi terkait :



    Selasa, 09 Juni 2020

    'UJUB, Ciri Hati yang Sedang Turun

    Renungan Shubuh
    Oleh Ahmad Rusdi

    Kali ini akan membahas hati yang turun (khofdh al-qolbiy). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa indikator hati seseorang sedang turun yang pertama adalah, bangga diri; kedua, pamer/riya, dan;  ketiga tamak yaitu perhatiannya selalu terfokus ke dunia saja.

    Kita bahas yang pertama, bangga diri (‘Ujub).
    Saya pernah ditanya tentang perbedaan antara ‘ujub (berbangga diri) dengan takabbur (sombong). Pertanyaan sederhana tapi lumayan sulit untuk menjawabnya. Dari referensi yang saya baca terutama kitab Ihya ‘Ulumiddin pada bab 29 tentang tercelanya sifat takabbur dan ‘ujub, dijelaskan bahwa takabbur itu perangai yang ada pada jiwa, yaitu merasa bangga dan condong untuk supaya dirinya dilihat orang lain (orang yang disombongi) dan obyek yang disombongkannya.

    Sementara ‘ujub itu hanya melibatkan dirinya sendiri, tidak melibatkan orang lain. Bahkan kata Imam al-Ghazali, jika saja manusia tidak diciptakan kecuali diri orang yang ‘ujub ini, niscaya ia masih bisa berlaku ‘ujub, dan ia tidak bisa --dibayangkan akan (bisa)-- bersikap sombong, karena sombong itu butuh orang lain selain dirinya. Orang yang sombong ini melihat bahwa dirinya berada di atas orang lain dengan sifat-sifat kesempurnaan. Oleh karena itu bila sudah berada pada kondisi seperti ini, maka orang tersebut disebut sombong.

    Sementara ‘ujub berupa perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri. Yang perlu difahami, penyakit ‘ujub ini berbahaya karena bisa mengundang kesombongan. Oleh karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hal ini dalam sabdanya:

    ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
                                                                          
    “Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Aushoth ).

    Oleh karenanya kita perlu hati-hati dengan penyakit ini. Karena godaan terhebat dari seorang yang sukses dalam hal rizki dan kekayaan, sukses dalam jabatan, keturunan dan juga sukses ilmu adalah rasa bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Sungguh, inilah penyakit hati orang sukses yang siapa saja bisa  terkena, termasuk saya yang menulis renungan ini. Padahal aib dan cacat kita begitu banyak, hanya karena rahmat dan kasih sayang Allah-lah aib dan cacat kita ditutup sehingga tidak diketahui orang lain. Allahummas tur ‘auratina.., Ya allah tutuplah cacat dan aib kami...amiin.
                                                                         
    Dalam al-Qur-an, Allah juga mengingatkan tentang hal ini:
    لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ

    ".....Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri." (Q.S. al-Qashash:76).

    Dan di ayat lain,  Allah berfirman:
    " ......Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa." (Q.S. an-Najm:32).

    Diriwayatkan pada suatu kesempatan Rasulullah SAW  mengingatkan para sahabat yang dikasihinya:

    "Takutlah kalian pada al-ujba' ". Hal ini beliau ulangi sampai tiga kali.
    Sahabat bertanya: ”Apa itu al-ujba' ya Rasulallah?”
    Rasul menjawab : "Yaitu bangga dan dan kagum pada diri sendiri.”

    Dalam riwayat lain Sayyidah Aisyah pernah ditanya: “Siapakah orang yang terkena ‘ujub?”
    Beliau menjawab: “Bila seseorang merasa bahwa ia telah menjadi orang baik.”

    Untuk itulah kita perlu hati hati terhadap virus 'ujub. Karena virus ini bisa masuk kemana saja dalam ranah kehidupan kita, hatta (bahkan) ibadah yang kita lakukan.
    Semoga Allah menjauhi kita dari penyakit ‘ujub…amiin.

    Lalu bagaimana kiat untuk menjauhi sifat sombong dan 'ujub ini?
    Dalam kitab Nashoihul Al Ibad, Imam Nawawi Al Bantani mengutip nasihat Syekh Abdul Qodir Al Jaelani terkait hal ini. Berikut nasihatnya:

    • Pertama, ketika kita bertemu orang lain maka pastikan kita berkata bahwa orang ini lebih baik dari pada kita. Katakanlah pada diri kita, bisa jadi orang ini lebih baik di sisi Allah SWT dari pada kita dan dia lebih tinggi derajatnya.
    • Kedua, jika pun orang lain itu adalah anak kecil, maka katakan dalam diri kita bahwa ia lebih baik dari kita karena ia belum bermaksiat kepada Allah SWT. Sedangkan kita sudah banyak bermaksiat kepada-Nya. 
    • Ketiga, jika yang kita temui adalah orang yang sudah tua, maka katakan bahwa orang ini sudah beribadah lebih banyak kepada Allah SWT dari pada kita.
    • Keempat, jika yang kita temui adalah orang yang punya ilmu, maka katakan pada diri sendiri bahwa orang ini sudah mendapat apa yang belum kita dapatkan dan telah mengetahui apa yang belum kita tahu. Secara otomatis dia mampu beramal dengan menggunakan ilmunya lebih banyak dari kita.
    • Kelima, jika kita bertemu dengan orang kurang ilmunya, maka katakan pada diri kita bahwa orang ini bermaksiat kepada Allah SWT karena ketidaktahuannya. Sedang kita sering bermaksiat padahal kita sudah tahu.
    • Keenam, jika kita berjumpa dengan orang Non-Muslim, maka katakanlah, “Aku tidak tahu, mungkin saja nantinya ia masuk Islam, kemudian mempunyai amal baik di akhir hayatnya, dan mungkin saja aku akan menjadi kafir, kemudian aku mempunyai amal buruk di akhir hayatku

    Dan yang perlu kita sadari dan ingat ialah bahwa saat jari telunjuk kita mengarah kepada saudara kita yang kita anggap bodoh, bersalah, tidak suci, lebih berdosa, kurang beriman, kurang sholeh dan dianggap tidak pantas masuk surga sejatinya ada empat jari lain yang mengarah ke diri kita sendiri.

    Di akhir renungan, saya nukilkan doa yang  masyhur di kalangan mereka yang menghafalkan al-Qur-an (para hafizh) terkait permohonan agar kita dijauhkan dari penyakit hati sebagaimana terdapat dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalati al-Qur-an karya asy-Syaikh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang biasa kita kenal dengan nama imam an-Nawawi.

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَأَزِلْ عُيُوْبَنَا وَتَوَّلَنَا بِالْحُسْنَى وَزَيِنَّا بِالتَّقْوَى وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَ الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا

    ”Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah aib  (keburukan kami), bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami dengan ketakwaan, kumpulkanlah untuk kami kebaikan akhirat dan dunia dan anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan kami."

    Wallahu a’lam.
    Maaf baru mengupas ‘ujub saja, agar  tidak terlalu panjang renungannya.
    Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat
    Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi (Renungan Shubuh keduabelas,  09/06/2020)



    Materi terkait :

    Senin, 08 Juni 2020

    "PERUBAHAN HATI"

    Renungan Shubuh
    Senin, 08/06/2020
    oleh Ahmad Rusdi


    Membahas masalah hati memang menarik karena disamping kebahagiaan yang merupakan tema renungan sejak awal, sangat tergantung pada hati yang juga terkait dengan amal ibadah kita. 
    Dalam kitab al-Wafi Syarah hadits al-arba’in an-Nawawi saat mengupas masalah niat, Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho dkk mengutip pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad yang mengatakan bahwa amal ibadah kita ada tiga unsur: hati, lisan dan badan/perbuatan. Jadi unsur hati menempati posisi sepertiga dari amal ibadah kita.

    Imam Abu Daud ketika mengomentari hadits Innama al-a’malu bi an-niyat yang menjelaskan tentang niat, mengatakan bahwa niat yang terletak di hati itu adalah setengah dari agama, karena amal yang terkait dengan agama (ibadah) itu terbagi menjadi dua, yaitu zhahir dan batin. Jadi hati sebagai tempatnya niat menempati posisi separuh ibadah.

    Mengingat peran dan posisinya yang sangat strategis pada diri kita, maka, mohon maaf, bila renungan kali ini masih melanjutkan tentang hati. Namun renungan ini mungkin tidak membahas secara teoritis terkait hati seperti yang dibahas dalam kitab ihya ‘ulumid Din di bab Fi ‘Ajaib al-Qolbi’ yang sangat luar biasa yang saya pun menyadari masih sangat perlu  bimbingan dalam menelaah dan mengkajinya.
    Renungan kali ini mengutip bab hati yang dikarang oleh Imam al-Ghazali juga tapi dari kitab yang lebih sederhana yaitu Minhaj al-‘Arifin

    Di bab kedua dari kitab tersebut (bab 'al-Ahkam') beliau menjelaskan tentang perubahan hati :

    " إعراب القلوب على أربعة أنواع: رفع وفتح وخفض ووقف، فرفع القلب في ذكر الله، وفتح القلب في الرضا عن الله تعالى، وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى، ووقف القلب في الغفلة عن الله تعالى فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , وفقد المخالفة , ودوام الشوق  وعلامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , والصدق , واليقين  وعلامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , والرياء , والحرص وهو مرعاة الدنيا  وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال."

    Kutipan kitab di atas akan saya terjemahkan dengan menambahkan penjelasan yang diperlukan. Perubahan hati menurut Imam al-Ghazali ada empat macam: 

    • pertama, hati yang terangkat/naik saat kita berzikir kepada Allah;
    • kedua, hati yang terbuka bila kita ridho kepada Allah SWT;
    • ketiga, hati yang turun bila kita sibuk dengan selain Allah SWT dan;
    • keempat, hati yang berhenti/mati ketika kita lalai dari Allah SWT.

    Selanjutnya beliau menjelaskan indikator dari keempat macam hati tersebut. Untuk memiliki hati yang terangkat/naik maka yang hendaknya dilakukan adalah:
    Pertama, adanya kesesuaian yaitu kesesuaian perilaku kita dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.
    Kedua, tidak adanya mukholafah yaitu prilaku kita tidak menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya.
    Ketiga, senantiasa ada kerinduan. Kerinduan untuk beribadah dan kerinduan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Bukankah salah satu tanda cinta kepada Allah adalah kita senantiasa rindu kepada-Nya, rindu untuk berjumpa kepada-Nya. Rasa rindu ini hendaknya kita rawat sehingga menjadi motivasi serta inspirasi kita untuk beribadah. Ketika rindu bersemayam di hati, kita kembalikan kepada sang pencipta hati dengan cara bersujud, berzikir dan berdoa  serta merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya.

    Sementara untuk hati yang terbuka, indikatornya adalah:
    Pertama, tawakkal (kepasrahan). Sejatinya seorang muslim memiliki kepasrahan karena salah satu makna Islam itu tunduk dan pasrah. Hanya makna tawakkal ini yang mungkin perlu diluruskan. Dalam tawakkal ada ikhtiar. Jadi tawakkal dan kepasrahan kita adalah tawakkal/kepasrahan yang aktif bukan pasif.  Namun yang hendaknya kita fahami juga adalah bahwa dalam kepasrahan dan sikap tawakkal sejatinya kita sadar bahwa sebaik-baik rencana kita, tentu lebih baik rencana yang Allah tentukan buat kita. Dengan tawakkal inilah justru kemuliaan kita akan nampak, karena orang yang bertawakkal itu tidak akan bergantung kecuali kepada Allah SWT.

    Indikator kedua dari hati yang terbuka adalah memiliki kejujuran. Jujur merupakan kata yang sangat sederhana, hanya terdiri dari lima huruf tetapi pengaruhnya bagi yang memiliki sangat luar biasa. Karena kejujuran itu akan membawa seseorang kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarnya ke surga yang Allah janjikan.             

    Sahabat Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:


    عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

    “Hendaklah kamu berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Jika seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dai akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur…."

    Indikator terakhir adalah keyakinan. Dalam hal ini kita harus yakin bahwa sesunguhnya kita yang butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. Keyakinan seperti ini akan mengantarkan kita untuk taat kepada-Nya.Karena hakikatnya ketaatan yang kita lakukan itu untuk kebaikan kita sendiri dan tidak berpengaruh kepada kekuasaan Allah SWT. 
    Dalam hadits qudsi sebagaimana dikutip dalam kitab Nashoih al’Ibad dan juga di al-arbain an-Nawawi dijelaskan bahwa seandainya  manusia dan jin berada dalam keadaan paling bertaqwa, niscaya tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun pada kerajaan Allah. Begitu pula dalam kedurhakaan tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

    Keyakinan bahwa kita butuh Allah yang mengantarkan kita taat kepada-Nya, hendaknya diiringi dengan keyakinan bahwa Allah selalu melihat kita dalam kondisi apapun sehingga hal ini mendorong kita untuk berhati-hati dalam bertindak dan beramal. Karena kita juga harus yakin bahwa amal kita yang berupa kebaikan akan mendapat balasan berupa pahala dan amal kita yang berupa keburukan akan mendapat balasan dan kita pertanggungjawabkan nanti di yaumil qiyamah.

     فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ # وَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ   

    “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. ( Q.S. Al-Zalazalah : 7-8)



    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah.
    Semoga bermanfaat.
    *Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesebelas,  08062020)




    Artikel terkait :


    Minggu, 07 Juni 2020

    "OBAT HATI YANG MATI"

    Renungan Shubuh
    Ahad, 07/06/2020
    Oleh Ahmad Rusdi

    Bahasan tentang hati yang keras kemarin, ada sahabat yang minta untuk diuraikan lebih dalam. Renungan shubuh kali ini kita coba membahas hal tersebut tentu dalam kapasitas keilmuan saya yang masih perlu banyak belajar dan mengaji kembali kepada guru dan ulama-ulama kita.

    Tidak sedikir ulama yang mengupas tentang faktor penyebab hati menjadi keras, namun secara garis besarnya adalah karena  perbuatan dosa dan maksiat serta lalai dari perintah Allah SWT (masih ingat surat az-Zumar ayat 22 …silahkan ditengok kembali).
    Rasulullah SAW mengibaratkan bila seseorang melakukan perbuatan dosa maka dihatinya akan muncul titik-titik hitam. Dan titik-titik hitam ini akan semakin banyak dan bisa menutupi hatinya (cahaya yang ada di hatinya) bila ia tidak bertobat dan terus menerus bermaksiat.Tapi bila ia bertaubat dan meminta ampun, insyaa Allah hatinya kembali dibersihkan dan cahaya hati akan kembali bersinar.

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

    “Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu  menutupi hati mereka’.” HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad).

    Hati yang keras ini bila dibiarkan berlanjut dan terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa, dikhawatirkan akan membatu (qulbun mayyitun), kondisi dimana seseorang secara pisik jasadnya hdup tapi hatinya mati. Dan bila sudah dalam kodisi seperti ini, disitulah seseorang justru merasakan nikmat ketika bermaksiat dan merasa tidak nyaman saat beribadah. Bukan sebaliknya, nikmat dalam beribadah dan tidak nyaman dalam bermaksiat. Kondisi hati yang seperti ini Imam al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul al-Arifin, menyebutnya dengan istilah "Waqf al-qolbi", hati yang berhenti/mati..

    Lalu apakah obatnya sehingga hati tidak keras dan bahkan bisa lembut sehingga mudah menerima hidayah taufik dan mudah melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Untuk melembutkan hati, berikut hal-hal  yang  hendaknya diperhatikan dan dilakukan:

    1. Memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah :
    ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رجلاً شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال: "إن أردت أن يلين قلبك فأطعم المساكين وامسح رأس اليتيم"
    “Apabila engkau menginginkan kelembutan pada hatimu maka berilah makan kepada orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad )

    2. Banyak berzikir dan membaca al-Qur-an dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya). Firman Allâh SWT:
     الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
    “orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram (Q.S ar-Ra’d: 28).

    3. Memohon kepada Allâh agar hati bisa khusyu’. Salah satunya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

     اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا         

    “Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

    4. Memperkaya ilmu terutama ilmu keislaman dan hikmah yaitu suatu kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih sebagaimana dikatakan oleh Imam Muh. Al-Ghazali dalam kitab ihya ‘Ulumid Din-nya.                                                                                                 
    5. Berteman dan berkumpul dengan orang sholeh yang bisa mengingatkan kita kepada Allah SWT.
    Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandariy dalam 'hikam'-nya mengatakan: 

    لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
    “Janganlah berteman kepada orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak mengantarkan/menunjukkanmu kepada Allah.”

    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
    *Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesepuluh,  07062020)


    Artikel terkait :

    Sabtu, 06 Juni 2020

    URGENSI IMAN DALAM MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

    Renungan Shubuh
    06/06/2020
    Oleh Ahmad Rusdi

    Adalah penting untuk selalu berfikir positif dan bertindak positif, dimana hal tersebut Rasulullah SAW contohkan dalam rumah tangga beliau. Mengkondisikan rumah tangga sangat penting karena walau bagaimanapun rumah tangga akan berpengaruh pada perkembangan kondisi psikologis kita. Namun jangan lupa pula untuk mengkondisikan internal diri kita supaya mendukung terwujudnya kebahagiaan. Hal ini terkait dengan bagaimana sikap, pikiran dan hati kita dalam meraih kebahagiaan. Renungan kali ini lebih fokus pada pribadi Rasul yang merupakan contoh teladan kita untuk menggapai kebahagiaan tersebut. Salah satunya adalah dengan menjaga dan memperkuat keimanan.

    Perhatian Rasul terhadap keimanan sangat luar biasa, karena keimanan fondasi utama bagi seorag muslim.  Iman merupakan sumber kebahagiaan yang terbesar. Dengan iman yang kuat seseorang akan mampu menghadapi musibah dan malapetaka, dan dengan iman pula seseorang tidak akan hanyut dengan kenikmatan dunia yang bisa membuatnya lalai kepada Allah SWT. Hal ini dicontohkan Rasulullah SAW bagaimana keimanan beliau yang demikian luar biasa yang membuat beliau senantiasa selalu ingat kepada Allah baik dalam kondisi mendapatkan musibah maupun memperoleh nikmat dan anugerah. Karena  bagi seorang mukmin, musibah maupun kenikmatan, keduanya adalah kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »
    “Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin itu, urusan apa saja adalah baik baginya. Dan tidak ditemukan kondisi sedemikian melainkan hanya ada pada orang-orang mukmin. Jika dia diberikan dengan sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur. Dan itulah yang lebih baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar. Dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Muslim).

    Dalam hadits lain untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga dan memperkuat iman, Rasululllah SAW mengingatkan kita sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Hakim dan ath-Thabrani:

    إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ
    “Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”

    Memperbaharui iman hendaknya dilakukan setiap saat, karena iman kita tidak seperti Rasulullah yang senantiasa bertambah (yazid wala yanqush). Iman kita di satu saat bertambah dan di saat lain justru kebalikannya yakni berkurang. Untuk menambah keimanan tentu salah satunya adalah dengan menambah ketaatan yang insyaaa Allah akan mendatangkan ketenangan jiwa dan hati. Amalan-amalan yang dapat menumbuhkan keimanan sebagaimana dikatakan Ibnu Ruslan dalam matan Zubad Ibn Ruslan:

    فكن من الإيمان في مزيد #
     وفي صــــفاء القلب ذا تجديد بكثرة الصلاة والطاعات #
     وترك ما للنفس من شهوات فشهوة النفس مع الذنوب #
     موجبتــــــان قسوة القـــلوب 

    Maka jadilah kamu dalam hal keimanan, bertambah
    Dan untuk  memiliki kejernihan hati dengan memperbanyak sholat dan ketaatan, serta meninggalkan sesuatu yang (bisa) menimbulkan syahwat, Karena nafsu syahwat bersama dosa
    keduanya faktor yang menyebabkan kerasnya hati.
    Dan bila hati seseorang sudah keras hatiya maka dia akan sulit untuk mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

    أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
    “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. az-Zumar: 22)

    Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras dia akan tercela dan berada dalam kesesatan. Seorang ulama benama Syaikh Malik bin Dînâr rahimahullah pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allah Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka.(lihat *Ma'alimut-Tanzil)
    Biasanya orang yang hatinya keras akan bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
    Bila sudah demikian (kita berlindung kepada Allah dari hati yang seperti ini), inilah yang dikatakan oleh Shohibul hikam syaikh Ibnu Athaillah as-sakandariy bahwa pada hati orang tersebut sudah terdapat tanda/ciri hati yang mati.

    من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

    "Di antara ciri hati yang mati tak ada kesedihan bagi ketaatan yang luput dikerjakan, dan tak ada penyesalan atas dosa yang sudah diperbuat."

    Untuk itulah betapa pentingnya kita menjaga, merawat dan memperkuat keimanan kita dengan dengan senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk taat dan beribadah sehingga dengan demikian kebahagiaan akan kita peroleh baik di dunia maupun di akhirat. Amiin.
    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
    *Salam dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesembilan,  06/06/2020)
    Wallahu a’lam.
    Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
    Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
    Kasi Kurikulum pada Direktorat Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren

    Home: Kalibata Utara II Pancoran Jaksel





    Materi selanjutnya :

    Minggu, 31 Mei 2020

    "Sub Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Seni Budaya dalam Optimalisasi Peran RIDHO"


    Hari Ahad, 31 Mei 2020/ 08 Syawwal 1441 H.
    Ketua DKM DK, H. Arif Armansyah, mengesahkan program dari Sub Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Seni Budaya (PAR&SB). Dalam susunan organisasi DKM Daarul Khairat Sub Bidang PAR&SB merupakan sub bidang yang berada di bawah Bidang I : Ibadah dan Dakwah.
    Agenda acara yang dilaksanakan pada ba'da sholat Maghrib ini adalah:
    "Pengesahan Program Sub Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Seni Budaya (PAR&SB) dalam optimalisasi peran RIDHO meniti kemanfaatan untuk jamaah"

    Secara garis besar, disampaikan oleh Ustad Dedi Sulin, program PAR&SB dan RIDHO meliputi:

    A. Program jangka pendek (1-6 bulan) : 
    Pembekalan attitude (akhlak mulia), pengetahuan agama, leadership, berani tampil dan teamwork, termasuk seni dan olahraga oleh pembina internal dan eksternal.
    B. Program Jangka menengah (3 bulan s.d 2 tahun) : 
    Pemantapan pengetahuan dan penentuan bakat kemampuan bidang agama, seni dan olahraga berkolaborasi dengan bidang pendidikan dan bidang terkait lainnya.
    C. Program Jangka panjang (2-4 tahun) : 
    Mengoptimalkan skill/talent remaja  di bidang agama, seni dan olahraga sehingga remaja bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat sekitar.


    *****

    Setelah menyampaikan sambutan, secara simbolis Ketua DKM berkesempatan mengenakan jersey/kaos bertuliskan tag : "Back to Masjid" pada salah seorang anak anggota dari RIDHO.



    RIDHO merupakan akronim dari Remaja Islam Daarul Khairat (dibaca: kHoirot).
    Menurut Ustad Dedi Sulin, VISI RIDHO adalah :
    "sebagai wadah bersama pengembangan diri dan kemanfaatan Remaja/i Islam Masjid Daarul Khairat khususnya dan perumahan Taman Raya pada umumnya.

    Dan MISI RIDHO adalah :
    >> Menjadikan Masjid Daarul Khairat sebagai sarana bersilaturrahim yang nyaman bagi remaja/i Islam;
    >> Membuat kegiatan-kegiatan pengembangan potensi bakat positif remaja/i Islam untuk bekal kehidupan Sukses Hebat Terpuji;
    >> Menjalin hubungan baik dan sinergi dengan karangtaruna perumahan TRB;
    >> Aktif menebar manfaat kepada jamaah dan masyarakat sekitar.

    Sumber: Bidang I Ibadah&Dakwah Sub Bidang PAR&SB


    Baca artikel terkait :

    Rabu, 20 Mei 2020

    Peluncuran Program "QUR'AN CENTER"


    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

    ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
    Alloh Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal ddalamnya.
    (Q.S. Al Baqarah: 257)

    *****

    DKM DK melalui Bidang Ibadah dan Dakwah meluncurkan program "QUR'AN CENTER" pada Sabtu malam, 20 Mei 2020/ 27 Ramadhan 1441. Bertepatan dengan bulan pertama kali Al Qur'an diturunkan: Ramadhan; dan momen nasional yang hampir-hampir tak terdengar gaungnya karena wabah pandemi covid-19: Hari Kebangkitan Nasional.

    Melalui media daring, Ustad Ansori dari Bidang Ibadah dan Dakwah DKM DK, menyampaikan hal-hal mengenai visi dan misi dari program Qur'an Center sebagai berikut: 

    Visi : 
    Qur'an Center menjadi pusat pembelajaran dan seni budaya Al-Qur'an di Taman Raya

    Misi : 

    1. Mengentaskan buta aksara Al-Qur'an di Taman Raya;
    2. Menjadi pusat sertifikasi metode belajar Al-Qur'an di Taman Raya bahkan Tambun Selatan;
    3. Mencetak huffadz (para penghafal) Al-Quran di Taman Raya;
    4. Membumikan Al-Qur'an sebagai budaya dan sistem nilai.

    Sasaran dari QC adalah semua kalangan-jamaah DK tanpa membedakan strata umur/usia.

    Simbolis pengesahan "QC"
    Ust. Ansori (mewakili QC) dan DKM (diwakili sekretaris Ahmad Cartim) 


     


    *******

    Terngiang lantunan ustad Safrul pada rokaat pertama sholat Isya sore tadi :



    ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

    "Alloh Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya...."

    *******

    Dengan memohon ridho Alloh, dengan semangat Ramadhan dan kebangkitan nasional dan menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya-petunjuk jalan hidup, maka "Quran Center" ini di-launching oleh DKM DK.

    Wallahu a’lam bis-shawab 
    (hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya)

    Sumber :  Dok. Bidang I Ibadah & Dakwah




    Daftar kata:
    Al-Huffâdz (الحفاظ) adalah bentuk jama' dari al-Hafizh (الحافظ) artinya yang menjaga atau menghafal.

    Rabu, 01 Januari 2020

    "Agenda Rutin"


    Kuliah Subuh
    Hari/Tgl : Rabu, 1 Des 2019
    Pemateri : Ust H  Didin Muhiddin MA
    Materi : Tazkiyatunnafs
         

    *****
    Kuliah Subuh
    Hari/Tgl : Ahad pagi 15 Desember 2019
    Pemateri : Ust Sunardi *
    Materi : Tafsir Al Qur'an


    *****     
    Taklim Rutin Ahad malam Senin (ba'da Maghrib s.d  Isya)
    Hari/Tgl : Ahad sore 15 Desember 2019
    Pemateri : Ust H Ahmad muwafi Lc
    Materi  : Hadist Kitab Riyadusholihin
         

    *****
    Taklim Rutin Ahad malam Senin (ba'da Maghrib s.d  Isya)
    Hari/Tgl : Ahad sore 22 Desember 2019
    Pemateri : Ust Ahmad Suroso, M.Komp.
     

    "Muhasabah Akhir Tahun"



    DKM DK menyelenggarakan malam zikir, tausiyah dan muhasabah dalam rangka menutup tahun 2019. Acara dilaksanakan pada Selasa 31 Desember 2019 ba'da Isya sampai dengan Subuh 1 Januari 2020

    Diawali dengan tasmi' juz 19 Q.S. Asy-Syura oleh Kholid Nurrohman.



    Zikir dipimpin Ust. Endang Suprapto
    *****

    Tausiyah
    Dibawakan oleh Ust. Syahrizal Kholid, S.Sos. bahwa muhasabah dilakukan sebagai bagian dari evaluasi diri. Membandingkan nikmat Alloh yang kita terima dengan seberapa taat (taqwa) kita kepada perinth dan larangan Alloh.
    Dari evaluasi diri, kemudian membangkitkan kita untuk melakukan penguatan tekad (azzam) untuk memperbaiki diri.
    Ust. Syahrizal Kholid S.Sos 


     


    *****
    Setelah tausiyah dan istirahat dilanjutkan dengan qiyamullail.
    Malam muhasabah ditutup dengan sholat Subuh berjamaah dan kuliah subuh yang disampaikan oleh Ust. Didin Muhiddin, M.A.




    Foto: DKM DK - Ust. Guntur W.

    Lelang Karpet Masjid DK


    DK - Dalam rangka memberikan kenyamanan dan ke-khusyu'-an jamaah dalam beribadah maka DKM DK mengadakan penggantian/pembaruan karpet. Program dengan tajuk "Wakaf Investasi untuk Akhirat" ditawarkan kepada jamaah yang berniat ikut andil dalam program ini berupa paket wakaf karpet dengan nilai Rp. 500.000,-/m².

    Dengan spek pekerjaan sebagai berikut:

    >>> Luas Total = 358 m²

    >>> Karpet
    Jenis = Custom Handtufted, kualitas HT.350. 
    Harga = Rp. 500.000,-/m².
    Total harga karpet = Rp.179.000.000,-

    >>> Underlayer (lapisan protektor bawah karpet sekaligus agar karpet menjadi lebih empuk)
    Harga = Rp. 50.000,-/ m².
    Total Harga = Rp.17.900.000,-.

    Total harga karpet masjid + underlayer = Rp. 196.900.000,-.


    *****

    Sartono QQ Daarul Khairat
    Bank Syari'ah Mandiri
    KCP. Bekasi (Tambun)
    No. Rek. 7010283196

    *****


    Pemasangan Underlayer
    (Ahad 17 Desember 2019)

    Jumat, 20 Desember 2019

    Selasa, 31 Desember 2019
    Muhasabah, malam 1 Januari 2020



    *****
    Foto/dok: DKM DK - Khaeruddin