- Kemampuan mengenali diri sendiri
- Kemampuan mengendalikan diri sendiri
- Kemampuan mengenali perasaan orang lain (empati)
- Kemampuan membangun hubungan baik dengan orang lain (kecerdasan sosial)
- Kemampuan memotivasi diri sendiri
Shaum atau puasa di bulan Ramadhan (selama 29 hingga 30 hari) merupakan media proses melatih diri yang tepat untuk meningkatkan kecerdasan emosi kita.
Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa perubahan perilaku atau kebiasaan seseorang akan terjadi setelah pengulangan yang ke-25 kali.
>> Puasa Ramadhan akan melatih kita melakukan tahap mengenali diri sendiri.
Saat tubuh merasakan lapar dan haus, kita menjadi sadar dan tahu bahwa sejatinya kita bukanlah siapa-siapa kecuali seorang hamba yang lemah tidak berdaya, tanpa pertolongan dari Dzat Yang Maha Perkasa, Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga akan melatih kita menjadi pribadi yang rendah hati, tahu diri, tidak sombong dan tidak angkuh.
>> Puasa Ramadhan akan melatih kita untuk mengendalikan diri sendiri.
Meskipun yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, namun jika selama menahan lapar dan dahaga kita gagal mengendalikan emosi atau amarah, maka gugurlah pahala puasa kita. Yang didapat hanyalah sekedar haus dan lapar alias sia-sia belaka.
>> Puasa Ramadhan akan melatih kita mengenali perasaan orang lain (empati).
Karena saat kita merasakan betapa perihnya perut saat lapar dan betapa keringnya tenggorokan ketika haus, disitu kita akan merasakan bagaimana jika kondisi ini terjadi setiap saat kepada orang-orang yang miskin, kaum dhuafa dan kalangan fakir.
>> Puasa Ramadhan akan melatih kita membangun/ meningkatkan hubungan baik (kecerdasan sosial).
Tuntunannya adalah : Siapa yang mau memberikan makanan kepada mereka yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala dari orang yang menerima hidangan tersebut, tanpa mengurangi pahala yang berpuasa.
Berdasarkan dalil ilmiah yang teruji sahih ini maka kita akan berlomba memberikan makanan berbuka atau sahur kepada sebanyak mungkin saudara sesama kita. Tindakan ini jelas akan meningkatkan kemampuan kita untuk saling bersosialisasi.
>> Puasa Ramadhan akan melatih kita untuk meningkatkan motivasi diri.
Berpuasa selama sebulan penuh akan terus mendorong diri kita untuk senantiasa konsisten hingga garis finish, yaitu akhir Ramadhan. Terutama mendekati 10 hari terakhir, karena pada 10 hari terakhir kita akan mengejar satu malam yang setara atau bahkan lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadar). Di akhir Ramadhan inilah kita akan mengerahkan segala daya upaya agar bisa mendapatkan kebaikan yang belum tentu setara dengan jatah umurnya hidup di dunia ini.
Mengapa shaum atau puasa di bulan Ramadhan dapat meningkatkan kecerdasan spiritual kita?
Puasa (shaum) Ramadhan yang kita jalankan dikatakan berhasil meningkatkan kemampuan atau kecerdasan spiritual kita apabila :
>> Menjadikan kita sebagai pribadi yang jujur, rendah hati (tawadhu')
>> Membersihkan jiwa (tazkiyatun nafsi) dan dapat mengendalikan nafsu
>> Membuat kita menjadi orang yang sabar
>> Menambah rasa syukur, tawakkal dan memperbaiki akhlak kita
Dengan kata lain, keberhasilan shaum Ramadhan bukan pada bentuk lahiriah ibadahnya (berhasil menahan lapar, haus, syahwat di siang hari), tetapi ditandai dengan dapat dirasakannya peningkatan kualitas amaliyah dan sikap hidup (spriritual) kita.
Aktifitas puasa Ramadhan yang memberi pengaruh terhadap peningkatan kecerdasan spriritual adalah yang dijalankan bukan hanya sekedar mencegah/menahan lapar, dahaga serta aktifitas syahwat suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi lebih dari tingkatan tersebut, yaitu menahan seluruh anggota badan kita dari perbuatan (dosa) yang dapat merusak pahala puasa, seperti :
>> Menjaga pandangan dari segala sesuatu yang dilarang oleh syar’i
>> Mencegah perut dari makanan yang syubhat (tidak jelas antara halal haramnya)
Hasil akhir yang diharapkan dari menjalankan shaum Ramadhan selama satu bulan penuh adalah kita akan tampil sebagai manusia yang bertaqwa (muttaqin) dan berakhlak mulia. Bukan hanya dihadapan sesama manusia, tetapi juga dihadapan Allah subhanahu wa Ta'ala. Bukan hanya ketika bulan Ramadhan, namun terus berlanjut pada kehidupan keseharian kita setelah Ramadhan..
Wallahu a'lam
*****
Taklim Ahad Pagi (20/05/2018)
Pemateri : Ust. Didin Muhidin, M.Ag
Moderator : Ust. Guntur Widodo