Sikap hati-hati sebagai perwujudan dari derajad ketakwaan pada diri seseorang, dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dikisahkan bahwa suatu malam, saat baru selesai mengerjakan tugas pekerjaan sebagai pejabat negara, Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan tamu. Kepada tamunya beliau bertanya maksud kedatangannya. Jika terkait urusan negara, maka beliau akan menerima tamunya dengan menyalakan lampu yang merupakan fasilitas dari negara. Namun, jika keperluan sang tamu untuk urusan pribadi, maka beliau akan mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu pribadi.
Sang tamu bertanya, mengapa khalifah berbuat demikian. Umar menjawab, cahaya lampu saat menjalankan tugas-tugas kenegaraan adalah milik negara. Karena itu, kalau urusannya untuk kepentingan pribadi, dia akan mematikannya dan menggantinya dengan lampu pribadi miliknya.
Namun, jika urusan tamu itu ada keperluan untuk urusan negara, dia akan menggunakan cahaya lampu negara untuk kepentingan negara dan bukan untuk kepentingan pribadi.
Dalam kisah tadi, betapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang pejabat negara sangat berhati-hati dalam mengemban amanah-menjalankan tugas-tanggung jawabnya. Beliau tidak mau terperosok menggunakan sesuatu yang bukan haknya. Pada masa kekhalifan beliau dikenal sebagai pemimpin yang paling adil dan tegas dalam melaksanakan hukum Alloh.
Kisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma
Terdapatlah seorang sahabat Nabi bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah sholat Subuh berjamaah di masjid, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad
Shalallahu 'Alaihi Wassalam ketika selesai shalat. Hingga suatu saat Nabi bertanya kepadanya, "Hai, apakah kamu tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan kepada Alloh sehingga kamu tidak pernah berdoa setelah selesai melaksanakan sholat. Kenapa kamu selalu terburu-buru pulang ? Ada apa ?"
Abu Dujanah menjawab, “Ya Rasulullah, saya punya satu alasan"
"Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” lanjut Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.
"Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat pohon kurma yang lebat buahnya. Setiap malam, kurma-kurma tetanggaku tersebut berjatuhan, dan beberapa mendarat-jatuh di halaman rumah kami."
"Yaa Rasul, kami keluarga yang miskin. Anak-anak saya sering kelaparan - kurang makan.
Saya takut saat anak-anak saya bangun di pagi hari, menjumpai kurma-kurma yang berserakan di halaman rumah kami lalu mereka memakannya. Oleh karena itu, setelah selesai sholat Subuh, saya selalu bergegas pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya.
Saya bergegas pulang untuk mengumpulkan kurma-kurma yang berceceran tersebut, lalu saya kembalikan kepada pemiliknya."
"Satu saat, pernah agak terlambat pulang dari masjid. Saya menemukan anak saya yang sudah terlanjur memakan kurma hasil temuannya. Tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di tanah di halaman rumah kami."
"Mengetahui hal itu, saya memasukan jari-jari tangan ke dalam mulut anak tersebut. Saya keluarkan kurma yang ada di dalam mulutnya."
Saya katakan, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu di akhirat kelak."
Anak saya lalu menangis, kedua matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.
Saya katakan kembali kepadanya, "Hingga nyawamu lepas pun, ayah tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan ayah keluarkan dan kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak."
Kisah ini menceritakan sahabat Abu Dujanah sebagai kepala keluarga berhati-hati dalam menjaga keluarga/anak-anaknya dari nafkah - penghasilan dan atau asupan makanan yang haram.
*****
ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.