Oleh Ahmad Rusdi
Kali ini akan membahas hati yang turun (khofdh al-qolbiy). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa indikator hati seseorang sedang turun yang pertama adalah, bangga diri; kedua, pamer/riya, dan; ketiga tamak yaitu perhatiannya selalu terfokus ke dunia saja.
Kita bahas yang pertama, bangga diri (‘Ujub).
Saya pernah ditanya tentang perbedaan antara ‘ujub (berbangga diri) dengan takabbur (sombong). Pertanyaan sederhana tapi lumayan sulit untuk menjawabnya. Dari referensi yang saya baca terutama kitab Ihya ‘Ulumiddin pada bab 29 tentang tercelanya sifat takabbur dan ‘ujub, dijelaskan bahwa takabbur itu perangai yang ada pada jiwa, yaitu merasa bangga dan condong untuk supaya dirinya dilihat orang lain (orang yang disombongi) dan obyek yang disombongkannya.
Sementara ‘ujub itu hanya melibatkan dirinya sendiri, tidak melibatkan orang lain. Bahkan kata Imam al-Ghazali, jika saja manusia tidak diciptakan kecuali diri orang yang ‘ujub ini, niscaya ia masih bisa berlaku ‘ujub, dan ia tidak bisa --dibayangkan akan (bisa)-- bersikap sombong, karena sombong itu butuh orang lain selain dirinya. Orang yang sombong ini melihat bahwa dirinya berada di atas orang lain dengan sifat-sifat kesempurnaan. Oleh karena itu bila sudah berada pada kondisi seperti ini, maka orang tersebut disebut sombong.
Sementara ‘ujub berupa perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri. Yang perlu difahami, penyakit ‘ujub ini berbahaya karena bisa mengundang kesombongan. Oleh karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hal ini dalam sabdanya:
ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Aushoth ).
Oleh karenanya kita perlu hati-hati dengan penyakit ini. Karena godaan terhebat dari seorang yang sukses dalam hal rizki dan kekayaan, sukses dalam jabatan, keturunan dan juga sukses ilmu adalah rasa bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Sungguh, inilah penyakit hati orang sukses yang siapa saja bisa terkena, termasuk saya yang menulis renungan ini. Padahal aib dan cacat kita begitu banyak, hanya karena rahmat dan kasih sayang Allah-lah aib dan cacat kita ditutup sehingga tidak diketahui orang lain. Allahummas tur ‘auratina.., Ya allah tutuplah cacat dan aib kami...amiin.
Dalam al-Qur-an, Allah juga mengingatkan tentang hal ini:
لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ
".....Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri." (Q.S. al-Qashash:76).
Dan di ayat lain, Allah berfirman:
" ......Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa." (Q.S. an-Najm:32).
Diriwayatkan pada suatu kesempatan Rasulullah SAW mengingatkan para sahabat yang dikasihinya:
"Takutlah kalian pada al-ujba' ". Hal ini beliau ulangi sampai tiga kali.
Sahabat bertanya: ”Apa itu al-ujba' ya Rasulallah?”
Rasul menjawab : "Yaitu bangga dan dan kagum pada diri sendiri.”
Dalam riwayat lain Sayyidah Aisyah pernah ditanya: “Siapakah orang yang terkena ‘ujub?”
Beliau menjawab: “Bila seseorang merasa bahwa ia telah menjadi orang baik.”
Untuk itulah kita perlu hati hati terhadap virus 'ujub. Karena virus ini bisa masuk kemana saja dalam ranah kehidupan kita, hatta (bahkan) ibadah yang kita lakukan.
Semoga Allah menjauhi kita dari penyakit ‘ujub…amiin.
Lalu bagaimana kiat untuk menjauhi sifat sombong dan 'ujub ini?
Dalam kitab Nashoihul Al Ibad, Imam Nawawi Al Bantani mengutip nasihat Syekh Abdul Qodir Al Jaelani terkait hal ini. Berikut nasihatnya:
- Pertama, ketika kita bertemu orang lain maka pastikan kita berkata bahwa orang ini lebih baik dari pada kita. Katakanlah pada diri kita, bisa jadi orang ini lebih baik di sisi Allah SWT dari pada kita dan dia lebih tinggi derajatnya.
- Kedua, jika pun orang lain itu adalah anak kecil, maka katakan dalam diri kita bahwa ia lebih baik dari kita karena ia belum bermaksiat kepada Allah SWT. Sedangkan kita sudah banyak bermaksiat kepada-Nya.
- Ketiga, jika yang kita temui adalah orang yang sudah tua, maka katakan bahwa orang ini sudah beribadah lebih banyak kepada Allah SWT dari pada kita.
- Keempat, jika yang kita temui adalah orang yang punya ilmu, maka katakan pada diri sendiri bahwa orang ini sudah mendapat apa yang belum kita dapatkan dan telah mengetahui apa yang belum kita tahu. Secara otomatis dia mampu beramal dengan menggunakan ilmunya lebih banyak dari kita.
- Kelima, jika kita bertemu dengan orang kurang ilmunya, maka katakan pada diri kita bahwa orang ini bermaksiat kepada Allah SWT karena ketidaktahuannya. Sedang kita sering bermaksiat padahal kita sudah tahu.
- Keenam, jika kita berjumpa dengan orang Non-Muslim, maka katakanlah, “Aku tidak tahu, mungkin saja nantinya ia masuk Islam, kemudian mempunyai amal baik di akhir hayatnya, dan mungkin saja aku akan menjadi kafir, kemudian aku mempunyai amal buruk di akhir hayatku
Dan yang perlu kita sadari dan ingat ialah bahwa saat jari telunjuk kita mengarah kepada saudara kita yang kita anggap bodoh, bersalah, tidak suci, lebih berdosa, kurang beriman, kurang sholeh dan dianggap tidak pantas masuk surga sejatinya ada empat jari lain yang mengarah ke diri kita sendiri.
Di akhir renungan, saya nukilkan doa yang masyhur di kalangan mereka yang menghafalkan al-Qur-an (para hafizh) terkait permohonan agar kita dijauhkan dari penyakit hati sebagaimana terdapat dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalati al-Qur-an karya asy-Syaikh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang biasa kita kenal dengan nama imam an-Nawawi.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَأَزِلْ عُيُوْبَنَا وَتَوَّلَنَا بِالْحُسْنَى وَزَيِنَّا بِالتَّقْوَى وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَ الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا
”Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah aib (keburukan kami), bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami dengan ketakwaan, kumpulkanlah untuk kami kebaikan akhirat dan dunia dan anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan kami."
Wallahu a’lam.
Maaf baru mengupas ‘ujub saja, agar tidak terlalu panjang renungannya.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat
Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi (Renungan Shubuh keduabelas, 09/06/2020)
Materi terkait :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar