Kamis, 11 Juni 2020

TAMAK : Ciri Hati yang sedang Turun

Renungan Shubuh
Kamis/11/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Mengawali renungan kita yang akan membahas indikator ketiga dari hati seseorang yang sedang turun sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali, saya awali dengan kutipan sebuah hadits rasulillah SAW yang masyhur di tengah kita, yaitu:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ 
“Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadits di atas menggambarkan sifat tamak yang merupakan indikator ketiga dari hati yang turun. Kecintaan manusia kepada harta tidak jarang membuat seseorang menjadi buta hati yang akhirnya menjadikan ia tamak dan rakus terhadap harta. Dan memang manusia itu punya kecenderungan cinta kepada harta.

Firman Allah dalam surat al-'Adiyat menggambarkan hal tersebut.
"wa innahu lihubbil khori lasyadid”, sesungguhnya manusia itu sangat cinta kepada harta. 
Hanya hendaknya kita tidak lupa bahwa ungkapan harta di ayat tersebut menggunakan kata “al-khair”, yang secara bahasa bermakna kebaikan
Disamping itu dalam bahasa Arab kata "harta" juga menggunakan istilah --dan ini yang lazim kita kenal-- “mal” ( مال) yang secara bahasa berasal dari kata مال–يميل-ميلا yang berarti cenderung/condong. Jadi memang manusia itu condong/cenderung dan suka dengan harta.

Penggunaan kata “al-khair” untuk harta mengisyaratkan bahwa harta itu sesungguhnya baik. 
Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk memperolehnya dengan cara yang baik dan menggunakannya juga dengan baik. 
Dalam konteks inilah kita bisa memahami sabda Rasulillah SAW : 
"ni’ma al-malu al-sholeh fi al-mar-i ash-sholih", sebaik baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang sholeh/orang yang baik. (Ja’alanallahu wa iyyakum min ash-sholihin… amiin).
Lah kok jadi bicara harta…..
Ya mau tidak mau, karena bicara tamak tidak terlepas dari harta. Bukankah harta merupakan salah satu ujian umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang beliau sabdakan:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.”
(HR. Tirmidziy, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali  menjelaskan  tamak dengan mengutip pendapat Sayyidina Umar ibn al-Khattab yang mengatakan bahwa:
“Tamak adalah kefakiran dan putus asa darinya adalah kekayaan. Karena siapa yang berputus asa/tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, niscaya dia tidak akan membutuhkannya”

Jadi sejatinya orang yang tamak itu adalah fakir, karena dirinya masih butuh dengan harta, bahkan bukan hanya sekedar butuh dalam batas yang wajar tapi butuh yang melampaui batas. Sehingga hatinya hanyut pada keduniaan dan hartanya yang akhirnya membuat ia sibuk dengan selain Allah SWT. Dan ketika hati kita sibuk dengan selain Allah itulah pertanda bahwa hati kita sedang turun ( وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى ).

Dengan uraian di atas bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bagaimana mungkin kita meninggalkan dunia sementara dunia adalah ladang tempat kita beramal dan akhirat tempat kita memanen hasilnya. Hanya yang perlu kita fahami adalah bahwa dunia ini semacam bandara kehidupan, kita hadir di dunia ini tidak lama, lalu kita akan pergi meninggalkannya menuju kehidupan akhirat yang abadi. Untuk itulah hendaknya kita jangan terlalu sibuk dengan dunia yang membuat kita lalai dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi).

Supaya kita tidak lalai, maka nilai keimanan, ketakwaan dan pemahaman ilmu agama terutama yang terkait dengan tazkiyatun nafsi (pensucian jiwa) menjadi sangat penting dalam mengarungi kehidupan di dunia sehingga dengan demikian kita menyadari bahwa dunia itu sarana kita untuk memperoleh ridho Allah SWT. Bila kita memperoleh ridho-Nya insyaa Allah nanti kita akan mendapatkan pahala/ganjaran yang terbaik dari Allah SWT di yaumil qiyamah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menjelaskan surat al-Qoshshos ayat 77:                             
 استعمل ما وهبك الله من هذا المال الجزيل والنعمة الطائلة، في طاعة ربك والتقرب إليه بأنواع القربات، التي يحصل لك بها الثواب في الدار الآخرة
“Pakailah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu dari harta yang berlimpah dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada-Nya dengan berbagai macam ketaatan. Yang dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.”                                                 
اللهم لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا 
ALLAHUMMA LA TAJ’ALID DUNYA AKBARO HAMMINA WA LA MABLAGHO ‘ILMINA
“Ya Allah Jangan Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar, jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.”
Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar tidak terlalu panjang renungannya.
Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh keempatbelas, 11062020)

Jangan Sibuk Dunia Lupa Akhirat – SUARAISLAM.ID


Materi sebelumnya :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar