Minggu, 07 Juni 2020

"OBAT HATI YANG MATI"

Renungan Shubuh
Ahad, 07/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Bahasan tentang hati yang keras kemarin, ada sahabat yang minta untuk diuraikan lebih dalam. Renungan shubuh kali ini kita coba membahas hal tersebut tentu dalam kapasitas keilmuan saya yang masih perlu banyak belajar dan mengaji kembali kepada guru dan ulama-ulama kita.

Tidak sedikir ulama yang mengupas tentang faktor penyebab hati menjadi keras, namun secara garis besarnya adalah karena  perbuatan dosa dan maksiat serta lalai dari perintah Allah SWT (masih ingat surat az-Zumar ayat 22 …silahkan ditengok kembali).
Rasulullah SAW mengibaratkan bila seseorang melakukan perbuatan dosa maka dihatinya akan muncul titik-titik hitam. Dan titik-titik hitam ini akan semakin banyak dan bisa menutupi hatinya (cahaya yang ada di hatinya) bila ia tidak bertobat dan terus menerus bermaksiat.Tapi bila ia bertaubat dan meminta ampun, insyaa Allah hatinya kembali dibersihkan dan cahaya hati akan kembali bersinar.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu  menutupi hati mereka’.” HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Hati yang keras ini bila dibiarkan berlanjut dan terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa, dikhawatirkan akan membatu (qulbun mayyitun), kondisi dimana seseorang secara pisik jasadnya hdup tapi hatinya mati. Dan bila sudah dalam kodisi seperti ini, disitulah seseorang justru merasakan nikmat ketika bermaksiat dan merasa tidak nyaman saat beribadah. Bukan sebaliknya, nikmat dalam beribadah dan tidak nyaman dalam bermaksiat. Kondisi hati yang seperti ini Imam al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul al-Arifin, menyebutnya dengan istilah "Waqf al-qolbi", hati yang berhenti/mati..

Lalu apakah obatnya sehingga hati tidak keras dan bahkan bisa lembut sehingga mudah menerima hidayah taufik dan mudah melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Untuk melembutkan hati, berikut hal-hal  yang  hendaknya diperhatikan dan dilakukan:

1. Memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah :
ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رجلاً شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال: "إن أردت أن يلين قلبك فأطعم المساكين وامسح رأس اليتيم"
“Apabila engkau menginginkan kelembutan pada hatimu maka berilah makan kepada orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad )

2. Banyak berzikir dan membaca al-Qur-an dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya). Firman Allâh SWT:
 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram (Q.S ar-Ra’d: 28).

3. Memohon kepada Allâh agar hati bisa khusyu’. Salah satunya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا         

“Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

4. Memperkaya ilmu terutama ilmu keislaman dan hikmah yaitu suatu kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih sebagaimana dikatakan oleh Imam Muh. Al-Ghazali dalam kitab ihya ‘Ulumid Din-nya.                                                                                                 
5. Berteman dan berkumpul dengan orang sholeh yang bisa mengingatkan kita kepada Allah SWT.
Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandariy dalam 'hikam'-nya mengatakan: 

لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
“Janganlah berteman kepada orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak mengantarkan/menunjukkanmu kepada Allah.”

Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesepuluh,  07062020)


Artikel terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar