Rabu, 13 April 2022

Keutamaan & Keistimewaan Puasa Ramadhan

Oleh: Ust. Abdul Kholik
Kultum Ba'da Isya
Rabu 11 Ramadhan 1443

Dikisahkan dalam kitab Durratun Nasihin, pada suatu ketika Nabi Musa 'alaihissalam bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam munajat itu, Nabi Musa berdialog, 
"Ya Rabb, adakah hamba yang Kau muliakan sebagaimana Engkau memuliakan aku yang dapat berdialog dengan-Mu secara langsung?"

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab, 
"Wahai Musa, sesungguhnya Aku memiliki hamba-hamba di akhir zaman (umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamyang kedudukannya Aku muliakan dengan bulan Ramadhan dan Aku akan lebih dekat kepada mereka dari (pada) engkau."
"Ketahuilah, sesungguhnya jarak kedekatan antara Aku dan dirimu masih terdinding oleh 70.000 hijab. Namun pada saat umat Muhammad berpuasa (Ramadhan), maka jadilah jarak-Ku lebih dekat dengan mereka melebihi kedekatan antara Aku dan dirimu wahai Musa."

*****

Q.S. Al Baqarah: 183-185

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
183. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

184. (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

185. Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Kewajiban puasa Ramadhan berlaku bagi orang yang beriman, berakal sehat dan sehat jasmani, baligh/dewasa, menetap/tidak dalam perjalanan dan bagi wanita tidak sedang haid dan nifas.
Bagi yang tidak mampu menjalankan karena sakit atau safar (dalam perjalanan), termasuk bagi wanita sedang haid dan nifas (masa setelah melahirkan)harus mengganti puasanya sebanyak  hari yang ditinggallkan pada hari yang lain di luar Ramadhan.

Keutamaan berpuasa ditandai dengan disediakannya salah satu pintu di surga dari delapan pintu yang ada, khusus bagi orang yang berpuasa yaitu pintu Ar Rayyan.
 
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ  فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari).
_____
DK dok.Ramadhan 1443)


Halaman terkait :

Minggu, 10 April 2022

Orang Bertakwa Selalu Berhati-hati dalam Menjalani Kehidupan

Oleh Ust. Mulyadi, S.Pd.I


Suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay, "Wahai Ubay, apa makna takwa?"
Ubay yang ditanya justru balik bertanya, "Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?"
Umar menjawab, "Tentu saja pernah"
"Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?" lanjut Ubay bertanya.
"Tentu saja aku akan berjalan hati-hati," jawab Umar.
Ubay lantas berkata, "Itulah hakikat takwa."

Dari percakapan dua sahabat tersebut bahwa menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang berhati-hati. Berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Agar kita tidak terperosok melakukan perbuatan yang dilarang Alloh Subhanahu wa ta'ala dan tetap berjalan sesuai dengan petunjuk Alloh Subhanahu wa ta'ala, karena itulah sebaik-baik bekal yang akan menyelamatkan kita dari penderitaan dan kesengsaraan di alam akhirat. Itulah takwa.


Kisah Lampu Sang Khalifah 

Sikap hati-hati sebagai perwujudan dari derajad ketakwaan pada diri seseorang, dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dikisahkan bahwa suatu malam, saat baru selesai mengerjakan tugas pekerjaan sebagai pejabat negara, Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan tamu. Kepada tamunya beliau bertanya maksud kedatangannya. Jika terkait urusan negara, maka beliau akan menerima tamunya dengan menyalakan lampu yang merupakan fasilitas dari negara. Namun, jika keperluan sang tamu untuk urusan pribadi, maka beliau akan mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu pribadi.

Sang tamu bertanya, mengapa khalifah berbuat demikian. Umar menjawab, cahaya lampu saat menjalankan tugas-tugas kenegaraan adalah milik negara. Karena itu, kalau urusannya untuk kepentingan pribadi, dia akan mematikannya dan menggantinya dengan lampu pribadi miliknya.
Namun, jika urusan tamu itu ada keperluan untuk urusan negara, dia akan menggunakan cahaya lampu negara untuk kepentingan negara dan bukan untuk kepentingan pribadi.

Dalam kisah tadi, betapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang pejabat negara sangat berhati-hati dalam mengemban amanah-menjalankan tugas-tanggung jawabnya. Beliau tidak mau terperosok menggunakan sesuatu yang bukan haknya. Pada masa kekhalifan beliau dikenal sebagai pemimpin yang paling adil dan tegas dalam melaksanakan hukum Alloh.


Kisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma

Terdapatlah seorang sahabat Nabi bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah sholat Subuh  berjamaah di masjid, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam ketika selesai shalat. Hingga suatu saat Nabi bertanya kepadanya, "Hai, apakah kamu tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan kepada Alloh sehingga kamu tidak pernah berdoa setelah selesai melaksanakan sholat. Kenapa kamu selalu terburu-buru pulang ? Ada apa ?"

Abu Dujanah menjawab, “Ya Rasulullah, saya punya satu alasan"
"Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” lanjut Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.
"Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat pohon kurma yang lebat buahnya. Setiap malam, kurma-kurma tetanggaku tersebut berjatuhan, dan beberapa mendarat-jatuh di halaman rumah kami."
"Yaa Rasul, kami keluarga yang miskin. Anak-anak saya sering kelaparan - kurang makan. 
Saya takut saat anak-anak saya bangun di pagi hari, menjumpai kurma-kurma yang berserakan di halaman rumah kami lalu mereka memakannya. Oleh karena itu, setelah selesai sholat Subuh, saya selalu bergegas pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya.
Saya bergegas pulang untuk mengumpulkan kurma-kurma yang berceceran tersebut, lalu saya kembalikan kepada pemiliknya."

"Satu saat, pernah agak terlambat pulang dari masjid. Saya menemukan anak saya yang sudah terlanjur memakan kurma hasil temuannya. Tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di tanah di halaman rumah kami."
"Mengetahui hal itu, saya memasukan jari-jari tangan ke dalam mulut anak tersebut. Saya keluarkan kurma yang ada di dalam mulutnya."
Saya katakan, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu di akhirat kelak." 
Anak saya lalu menangis, kedua matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Saya katakan kembali kepadanya, "Hingga nyawamu lepas pun, ayah tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan ayah keluarkan dan kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak."

Kisah ini menceritakan sahabat Abu Dujanah sebagai kepala keluarga berhati-hati dalam menjaga keluarga/anak-anaknya dari nafkah - penghasilan dan atau asupan makanan yang haram. 


*****

ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.
(Q.S. Maryam ; 72)



*****
Kultum Ba'da Isya menjelang Tarawih
(Ahad 8 Ramadhan 1443)


Halaman terkait :


Sabtu, 02 April 2022

Daarul Khairat Sambut Ramadhan 1443 H

DK - Sambut Ramadhan 1443 malam pertama dengan sholat Isya berjamaah dilanjutkan dengan sholat Tarawih pada Sabtu malam 02 April 2022. Diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Ketua DKM yang diwakili oleh H. Sartono.

Kemudian dilanjutkan penyampaian laporan Panitia Pelaksana Ramadhan yang diwakili oleh Ahmad Chartim (Sekretaris Panitia) diantaranya menyampaikan agenda Ramadhan 1443 H sbb :

  1. Tarhib menyambut Ramadhan (27 Maret 2022);
  2. Kultum setiap menjelang Sholat Tarawih;
  3. Khotmil Qur'an (17 April 2022 / 15 Ramadhan 1443) 
  4. Nuzulul Qur'an (18 April 2022 / 16 Ramadhan 1443);
  5. Pesantren Kilat (24 April 2022 / 22 Ramadhan 1443); 
  6. Pengumpulan Zakat Fitrah & Mal serta infaq/shodaqoh (dimulai 10 hari sebelum Idul Fitri);
  7. Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawwal 1443 H;  
Jadwal Tarawih 
(Imam, bilal, kultum)


Jadwal I'tikaf  Ramadhan 1443 H


Setelah sambutan pembuka dan laporan oleh panitia, dilanjutkan kultum dengan pemateri Ust. Abdul Khaliq dan sholat Tarawih berjamaah.

*****

Susunan Panitia Ramadhan 1443 H Masjid Jami Daarul Khairat :

I.      Penanggung Jawab : 
            Ketua DKM - H. Arif Armansyah

II.    Penasehat :
            Penasehat 1 : Ust. Ansori
            Penasehat 2 : H. Sartono
            Penasehat 3 : H. S Heri W
            Penasehat 4 : H. Is Nugroho


III. Panitia Pelaksana
           Ketua          :  A. Basith Ahmad
           Sekretaris   :  A. Chartim
           Bendahara  :  Hermaedi


IV. Seksi-seksi
        1. Seksi Acara : Ust. Rosa Herdiansyah
    a. Tarhib : Ummul K & Anna Noviyanti
    b. Tarawih & Kultum : Ust. Tugiono & Ust. Guntur
    c. Nuzulul Qur’an : Ust. Abdul Khaliq
    d. Zakat & Infaq : Ust. Abdul Khaliq
    e. Pesantren Kilat : Ust. Guntur & Ust. Rosa Herdiansya
    f. I’tikaf : Ust. Abdul Khaliq
    g. Idul Fitri & Malam Takbir : Ust. Tugiono
    h. Ta’jil : Ust. Jimmy

        2. Seksi Perlengkapan : Ust. Tugiono
        3. Seksi Konsumsi : Ummul K.
        4. Seksi Dokumentasi : Adrian
        5. Seksi Humas : Momon



______
Sumber: Panitia Ramadhan 1443_DK