Selasa, 01 Mei 2018

RAPAT PENGURUS DKM : "PERSIAPAN RAMADHAN 1439 H"

DK. Pengurus DKM DK pada Selasa 1 Mei 2018 menggelar rapat sebagai persiapan segenap elemen pengurus DKM menghadapi bulan Ramadhan 1439 H. Ba'da Isya, rapat dipimpin langsung oleh Plt. Ketua DKM Arif Armansyah.

Rapat menyepakati hal-hal sbb :
1. Pembentukan "Panitia Ramadhan 1439 H" 
2. Pelaksanaan Kerja Bakti di Masjid Jami Daarul Khairat. Bersih-bersih dan bebenah persiapan memasuki bulan Ramadhan 1439 H Ahad 13 Mei 2016 (Pagi s/d selesai)
3. Pawai menyambut Ramadhan (tarhib) santriwan/wati TPA/TPQ Masjid Daarul Khairat dan TPA/TPQ  Masjid/Mushalla se-Taman Raya  Kamis 10 Mei 2018 (Pagi)
4. Pesantren kilat bagi anak dan remaja Minggu Pertama Ramadhan 1439 H
5. Peringatan Nuzulul Quran (Penceramah:Ust. Aang Muslih, S.Pd.I) 16 Ramadhan 2018 Ba'da Sholat Isya








Tanggal 1 Ramadhan 1439 :
menunggu Keputusan Menteri Agama RI

*******

Selasa Malam (01/05/2018)
Supervisi : Bidang Takmir & Ibadah

Senin, 23 April 2018

Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 1439 H


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Isra: 1)

*****

DK. Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diselenggarakan ba'da Subuh berjamaah pada Ahad 22 April 2018 atau 6 Sya'ban 1439. Acara dipandu oleh Ust. Rosa Herdiansyah sebagai MC. Sebagai pembukaan, pembacaan rawi barzanji dilantunkan oleh Ust. Endang Suprapto dan Ust. Darsim. Kemudian tilawah Al Quran Surah Al-Israa oleh Ust. Yasin dan sari tilawah oleh Bapak Ahmad Chartim.

Ketua Panitia Peringatan Isra' Mi'raj pada tahun ini, Bapak Asep Nurdin kemudian menyampaikan sambutan dan laporan panitia. Dilanjutkan sambutan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Jami Daarul Khairat Bapak Arif Armansyah.

Tausiyah dan hikmah dari Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam disampaikan oleh Ustad Aang Muslih, S.Pd.I dari Sumberjaya

>> Tanda Kekuasaan dan Kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala
Pada peristiwa Isra' Mi'raj, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperjalankan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Al Aqsha (Isra'), kemudian dilanjutkan menuju ke Sidratul Muntaha (Mi'raj) dalam satu malam. Peristiwa ini menunjukkan kebesaran Allah Ta’ala. Satu peristiwa yang tidak mampu dicapai oleh akal manusia, sekaligus menjadi pembeda antara orang-orang yang benar keimanannya dengan orang-orang yang mengkufurinya.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Isra: 1)

Pada peristiwa Isra' Mi'raj, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan perintah shalat fardu lima waktu dalam sehari semalam. Begitu pentingnya perintah shalat sehingga Allah memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menerima perintah langsung di Sidratul Muntaha.

>> Shalat merupakan pembeda antara muslim dengan orang kafir 
"Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (H.R. Muslim) 
"Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Amal yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat, apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain. Jangan sampai kita dan keluarga kita meninggalkan shalat. 

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,.... (Q.S. Al-Muddatstsir: 42-43)

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,... (Q.S. Maryam: 59)

Dari Jabir radhiyallahu`anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat. (H.R. Muslim)

Wallahu a’lam



Ust. Aang Muslih, Ketua & Pengurus DKM,
Panitia serta Jamaah foto bersama


Sambutan Ketua DKM :
Arif Armansyah 








*******

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 1439H
Ahad Pagi Ba'da Subuh (22/04/2018)
Supervisi : Bidang Dakwah & PHBI
Dokumentasi : Musrizal

Minggu, 15 April 2018

"HATI YANG MATI" - Taklim Ahad Malam


Oleh : Guntur Widodo

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" 
(Q.S. Al-Jumu'ah : 8).

*******

Ustad Guntur membuka taklim dengan pertanyaan, "Kapan dan dimana kita akan mati ?"
"Bukan masalah kapan dan dimana kita akan mati, tetapi apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapinya" lanjutnya.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah menghembuskan nafas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis. Dalam Islam, peristiwa kematian menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Banyak manusia yang sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, karena : sedekah jariyah semasa hidupnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang selalu mendoakannya. Mereka mati jasad, tapi pahalanya terus hidup.

Sesungguhnya yang perlu kita khawatirkan adalah 'matinya hati' saat kita masih hidup. Orang yang hatinya telah mati melakukan perbuatan baik atau pun buruk rasanya akan sama saja, biasa-biasa saja dan tidak ada nilainya sama sekali.

Tanda-tanda 'hati yang mati' adalah sebagai berikut:

1. Tarkush sholah 
(Berani meninggalkan sholat fardhu)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kepada kita tentang hal ini melalui firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui ghayya (kesesatan)." (Q.S. Maryam: 59)

'Ghayya' pada ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu`anhu sebagai sungai atau lembah di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.

2. Adzdzanbu bil farhi 
(Tenang tanpa merasa berdosa padahal melakukan dosa besar)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu`anhu berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (H.R. Bukhari)

Di antara ciri keimanan seseorang kepada Allah adalah rasa takut dan khawatir yang sangat besar dan mendalam terhadap dosa-dosanya. Karena setiap dosa kelak akan menjadi kepedihan mendalam dan menjadi bara neraka yang menyiksa dan menyengsarakannya. Maka ia merasa takut, seolah ia seperti berada di lereng sebuah gunung yang menjulang dan ia khawatir gunung tersebut akan jatuh menimpanya.
Sementara seorang ahli maksiat ia tidak takut akan perbuatan maksiat dan dosa-dosanya, sehingga setiap hari hidupnya bergelimang dengan kemaksiatan dan dosa. Ia menganggap remeh dosa-dosanya, seakan seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dan ia mengatakan, "Seperti ini saja". 

3. Karhul Quran 
(Tidak mau membaca bahkan menjauhi ayat-ayat Al Quran)

Dari Abu Musa al-Asy`ari radhiyallahu`anhu berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Quran ialah seperti buah utrujjah, baunya enak dan rasanya pun enak.
Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis.
Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca Al Quran ialah seperti tumbuhan harum raihanah, baunya enak namun rasanya pahit.
Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Quran ialah seperti buah hanzolah, tidak ada baunya dan rasanya pun pahit.

Tanda bahwa hati seseorang yang telah mati adalah ketika disampaikan firman Allah ia tidak akan tersentuh hatinya. Tidak mau mendengar dan lalai membaca Al Quran sehingga berpaling dari Al Quran. Padahal Al Quran adalah sebenar-benarnya petunjuk dari Allah untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

4. Hubbul ma’asyi 
(Terus menerus melakukan maksiat)

Dalam pergaulan sehari-hari maupun media massa sering kita jumpai orang yang telah melakukan maksiat dan dengan bangganya, tanpa rasa malu, menceritakan perbuatannya tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu`anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, "Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu". 
Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

5. Asikhru 
(Sibuknya hanya suka mengumpat, buruk sangka, merasa dirinya lebih suci)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci". 
Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?"
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)” (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).

6. Ghodbul ulamai
(Sangat benci dengan nasehat baik dari ulama)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta" (Q.S. Al Baqarah: 10)

Orang yang telah tertutup hatinya akan memiliki hati yang membatu, keras dan tidak mempan dengan berbagai macam nasehat. Ia juga sangat membenci nasehat-nasehat baik dari para ulama. Mata dan telinga mereka tidak mau digunakan untuk melihat dan mendengarkan kebaikan.

7. Qolbul hajari
(Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, siksa kubur dan akhirat)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
"Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu di hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (H.R. Ibnu Majah).

8. Himmatuhul bathni
(Cinta/gila pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah diterima sholat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (H.R. Muslim)

9. Anaaniyyun
(Tidak mau tahu atau masa bodoh dengan keadaan orang lain)

Anaaniyyun adalah orang tidak mau tahu atau masa bodoh dengan keadaan orang lain bahkan kepada keluarganya sendiri sekalipun menderita, dayus dan tidak bertanggungjawab.

Dalam riwayat seorang Sahabat bertanya:
"Apakah itu Dayus ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab :
"Yaitu seorang lelaki yang membiarkan kejahatan (zina, membuka aurat, pergaulan bebas) dilakukan oleh ahlinya (istri dan keluarganya)."


10. Al intiqoom
(Pendendam hebat)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam”. (H.R. Bukhari).

11. Albukhlu
(Sangat bakhil/kikir)

Allah berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Ali Imran: 180)

Maksudnya, Allah akan menjadikan harta yang ia bakhil untuk menginfakkannya sebagai beban di pundaknya pada hari kiamat. 

12. Ghodhbaanun
(Cepat marah karena keangkuhan dan dengki)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan/menahan emosinya ketika marah." (H.R. Bukhari)

Wallahu a’lam


*******


Taklim Ahad Malam (15/04/2018)
Pemateri : Ust. Guntur Widodo
Moderator : Achmad Chartim
Supervisi : Bidang Dakwah & PHBI