Selasa, 30 Juni 2020

Profil DKM Daarul Khairat

 


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang 



YAYASAN MASJID JAMI DAARUL KHAIRAT

SK KEMENKUMHAM RI No. AHU-0023409.AH.01.04.Tahun 2021 Kepala Desa Mangunjaya 


PEMBINA :
  1. Kepala Desa Mangunjaya 
  2. Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Mangunjaya 
  3. Kepala Dusun II Desa Mangunjaya 
  4. Ketua RW 21

DEWAN PENASEHAT :


-
    KETUA DKM :

    >>  H. Arif Armansyah


    KETUA I :
    >> H.M. Dulfi
    Ketua I membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Zakat, Infaq, Shadaqah (     )
    2. Bidang Takmir & Ibadah (     )
    3. Bidang Dakwah & PHBI (     )
    4. Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (     )
    5. Bidang Majelis Taklim (     )

    KETUA II :
    >> H. Arif Armansyah
    Ketua II membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Humas & Publikasi (     )
    2. Bidang Sosial Kemasyarakatan (     )

    KETUA III : >> H. Sujono
    Ketua III membawahi bidang-bidang sbb :
    1. Bidang Pengadaan, Pemeliharaan Aset & Perpustakaan Masjid (Susilo)
    2. Bidang Pembangunan dan Pembangunan (Sartono)
    3. Bidang Keamanan & Ketertiban (Gatot Yuwono)

    BENDAHARA : 

    >> H. In'am


    SEKRETARIS :

    1. Achmad Chartim
    ❋❋❋❋❋

    PANITIA PEMBANGUNAN MASJID :
    Sejak tahun 2008 sampai dengan hari ini, Majid Jami Daarul Khairat masih terus melakukan pengembangan / pembangunan fisik. Panitia pembangunan masjid adalah sbb :

    > Koordinator : H. Sujono
    > Ketua Pelaksana : Sartono Azis
    > Sekretaris : Swasihono Heriwibowo
    > Bendahara : H. Mulyanto

    2008 
    2018 


    ❋❋❋❋❋


    BADAN KONTAK MAJELIS TAKLIM (BKMT)

    Ketua BKMT : Nana Robiana


    (....dalam proses pengumpulan bahan.......)

    Kamis, 11 Juni 2020

    TAMAK : Ciri Hati yang sedang Turun

    Renungan Shubuh
    Kamis/11/06/2020
    Oleh Ahmad Rusdi

    Mengawali renungan kita yang akan membahas indikator ketiga dari hati seseorang yang sedang turun sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali, saya awali dengan kutipan sebuah hadits rasulillah SAW yang masyhur di tengah kita, yaitu:

    لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ 
    “Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.” (Muttafaq ‘alaih).

    Hadits di atas menggambarkan sifat tamak yang merupakan indikator ketiga dari hati yang turun. Kecintaan manusia kepada harta tidak jarang membuat seseorang menjadi buta hati yang akhirnya menjadikan ia tamak dan rakus terhadap harta. Dan memang manusia itu punya kecenderungan cinta kepada harta.

    Firman Allah dalam surat al-'Adiyat menggambarkan hal tersebut.
    "wa innahu lihubbil khori lasyadid”, sesungguhnya manusia itu sangat cinta kepada harta. 
    Hanya hendaknya kita tidak lupa bahwa ungkapan harta di ayat tersebut menggunakan kata “al-khair”, yang secara bahasa bermakna kebaikan
    Disamping itu dalam bahasa Arab kata "harta" juga menggunakan istilah --dan ini yang lazim kita kenal-- “mal” ( مال) yang secara bahasa berasal dari kata مال–يميل-ميلا yang berarti cenderung/condong. Jadi memang manusia itu condong/cenderung dan suka dengan harta.

    Penggunaan kata “al-khair” untuk harta mengisyaratkan bahwa harta itu sesungguhnya baik. 
    Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk memperolehnya dengan cara yang baik dan menggunakannya juga dengan baik. 
    Dalam konteks inilah kita bisa memahami sabda Rasulillah SAW : 
    "ni’ma al-malu al-sholeh fi al-mar-i ash-sholih", sebaik baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang sholeh/orang yang baik. (Ja’alanallahu wa iyyakum min ash-sholihin… amiin).
    Lah kok jadi bicara harta…..
    Ya mau tidak mau, karena bicara tamak tidak terlepas dari harta. Bukankah harta merupakan salah satu ujian umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang beliau sabdakan:

    إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ
    “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.”
    (HR. Tirmidziy, Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali  menjelaskan  tamak dengan mengutip pendapat Sayyidina Umar ibn al-Khattab yang mengatakan bahwa:
    “Tamak adalah kefakiran dan putus asa darinya adalah kekayaan. Karena siapa yang berputus asa/tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, niscaya dia tidak akan membutuhkannya”

    Jadi sejatinya orang yang tamak itu adalah fakir, karena dirinya masih butuh dengan harta, bahkan bukan hanya sekedar butuh dalam batas yang wajar tapi butuh yang melampaui batas. Sehingga hatinya hanyut pada keduniaan dan hartanya yang akhirnya membuat ia sibuk dengan selain Allah SWT. Dan ketika hati kita sibuk dengan selain Allah itulah pertanda bahwa hati kita sedang turun ( وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى ).

    Dengan uraian di atas bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bagaimana mungkin kita meninggalkan dunia sementara dunia adalah ladang tempat kita beramal dan akhirat tempat kita memanen hasilnya. Hanya yang perlu kita fahami adalah bahwa dunia ini semacam bandara kehidupan, kita hadir di dunia ini tidak lama, lalu kita akan pergi meninggalkannya menuju kehidupan akhirat yang abadi. Untuk itulah hendaknya kita jangan terlalu sibuk dengan dunia yang membuat kita lalai dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
    “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi).

    Supaya kita tidak lalai, maka nilai keimanan, ketakwaan dan pemahaman ilmu agama terutama yang terkait dengan tazkiyatun nafsi (pensucian jiwa) menjadi sangat penting dalam mengarungi kehidupan di dunia sehingga dengan demikian kita menyadari bahwa dunia itu sarana kita untuk memperoleh ridho Allah SWT. Bila kita memperoleh ridho-Nya insyaa Allah nanti kita akan mendapatkan pahala/ganjaran yang terbaik dari Allah SWT di yaumil qiyamah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menjelaskan surat al-Qoshshos ayat 77:                             
     استعمل ما وهبك الله من هذا المال الجزيل والنعمة الطائلة، في طاعة ربك والتقرب إليه بأنواع القربات، التي يحصل لك بها الثواب في الدار الآخرة
    “Pakailah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu dari harta yang berlimpah dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada-Nya dengan berbagai macam ketaatan. Yang dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.”                                                 
    اللهم لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا 
    ALLAHUMMA LA TAJ’ALID DUNYA AKBARO HAMMINA WA LA MABLAGHO ‘ILMINA
    “Ya Allah Jangan Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar, jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.”
    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar tidak terlalu panjang renungannya.
    Semoga bermanfaat.
    *Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh keempatbelas, 11062020)

    Jangan Sibuk Dunia Lupa Akhirat – SUARAISLAM.ID


    Materi sebelumnya :



    Rabu, 10 Juni 2020

    RIYA, Ciri Hati yang Sedang Turun

    Renungan Shubuh
    Rabu, 10 Juni 2020
    Oleh K.H. Ahmad Rusdi

    Kemarin kita membahas tentang ‘ujub dan kali ini kita akan bahas masalah riya yang merupakan indikator kedua dari hati yang sedang turun (Khofdh al-Qolbi) menurut Imam al-Ghazali.

    Kalau kita buka kamus Lisan al-‘Arab, kata riya mengandung arti menunjukan suatu perbuatan secara berlebihan demi mendapatkan ketenaran.  Sementara Imam al-Ghazali  dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin-nya  mendefinisikan sebagai amal yang dilakukan dengan tujuan disaksikan orang lain agar mendapatkan kedudukan dan pepularitas.  Secara sederhana dapat digambaarkan, riya itu terjadi  ketika kita  melakukan  suatu perbuatan bukan karena mengharap ridha Allah, tetapi karena ingin dilihat orang lain agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau popularitas.

    Lawan dari  riya adalah ikhlas. Ketika kita beribadah semata karena Allah bukan karena faktor lain di luar Allah SWT, itulah yang namanya ikhlas. Terkait dengan ikhlas ini ada penjelasan menarik dari imam an-Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoih al-‘Ibad. Beliau membagi ikhlas dalam tiga tingkatan yang semuanya masih masuk dalam kategori ikhlas:

    Tingkatan ikhlas yang pertama,


    فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق  العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

    “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya kecuali (hanya) melaksanakan perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

    Ini tingkatan ikhlas yang tertinggi dimana seorang hamba melakukan amal ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Tak terpikir sama sekali pada dirinya tentang balasan atas amal ibadahnya itu. Bahkan ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Yang Ia harapkan hanya ridho Allah SWT.

    Tingkatan ikhlas yang kedua:

     والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

    “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”

    Pada tingkatan kedua ini seorang hamba melakukan amal ibadahnya karena Allah namun di balik itu ia masih memiliki keinginan agar dengan amal ibadahnya tersebut ketika  di akherat nanti,  ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT dengan memperoleh kenikmatan surga yang Allah janjikan dan terhindar dari azab api neraka.

    Muncul pertanyaan, memang tidak boleh beramal ibadah dengan motivasi seperti ini dan apakah itu tidak termasuk ikhlas?  Beramal ibadah dengan motivasi seperti tersebut di atas masih termasuk ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang benar-benar ikhlas, sebagaimana yang digambarkan oleh Prof Dr. KH. Quraish Shihab, dimana ikhlas itu bagaikan air bening yang berada dalam gelas yang tidak terkotori sedikitpun, jadi murni dan jernih semata karena Allah. Tapi keihlasan tingkat kedua ini masih diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah juga sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan diberikan harapan mendapatkan pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat nanti.

    Tingkatan yang ketiga:

     والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

    “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

    Inilah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana dalam melakukan amal ibadah seseorang melakukannya karena Allah namun ia berharap dengan amal ibadahnya tersebut kan mendapatkan imbalan  yang bersifat duniawi. Misalnya beribadah melakukan sholat malam/tahajjud karena berharap memperoleh kemuliaan di dunia, melakukan sholat dhuha dengan harapan diluaskan rizkinya dan lain sebagainya.

    Beribadah dengan kondisi seperti tingkatan ketiga ini masih  dikategorikan ikhlas dan syah saja, karena memang ajaran agama juga memberikan tawaran hal tersebut untuk memotivasi umatnya, namun yang perlu difahami  ialah bahwa beribadah dengan motivasi seperti tersebut di atas tingkatan keikhlasannya paling rendah.


    Yang tidak boleh adalah ketika kita beramal ibadah dengan niat dan motivasi selain tiga hal tersebut di atas, yang dikategorikan oleh imam an-Nawawi sebagai riya.
    وما عدا ذلك رياء مذموم
    Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

    Adapun ciri orang yang pada dirinya ada riya, mengutip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagaimana teradapat dalama kittab Majmu’ah Tsaman Rosail Syafiiyah Mufiydah yang dikarang oleh asy-Syaikh ‘Alwi bin Ahmad ats-Tsaqqaf, adalah:

      وقال سيدنا علي بن أبي  طالب رضي الله عنه : لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

    “Berkata Sayyidina ‘Ali RA: Orang riya’ memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci.”

    Agar terhindar dari penyakit riya, berikut tips yang hendaknya kita lakukan antara lain:

    1. Melawan getaran hati yang mengajak untuk riya. Di sini kita berusaha semaksimal mungkin melawan bisikan dan ajakan setan yang memang ingin agar amal ibadah kita tidak bernilai. Untuk itulah kita harus merawat niat keikhlasan. Bila sudah mulai ada godaan, kembalikan niat kita memang hanya untuk Allah.
    2. Perbanyak doa dan minta perlindungan kepada Allah. Karena niat itu terletak di hati dan hati itu milik Allah maka kita kembalikan kepada-Nya dengan berdoa agar terhindar dari riya yang merupakan syirik khofiy, syirik yang tersembunyi. Adapun doanya sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhori adalah sebagai berikut:
    أَيهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ الله أَنْ يَقُولَ: وَكَيفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخفَى مِنْ دَبِيب النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللهِ؟! قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنا نَعُوذُ بِكَ مِن أَنْ نُشرِكَ بِكَ شَيئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا نَعْلَمُ
                                                                                                                                                     
    “Wahai manusia, takutlah kalian pada syirik ini karena ia lebih samar dari pergerakan semut. Kemudian ada seorang bertanya, ‘Bagaimana cara kami terhindar darinya, sementara ia lebih samar dari pergerakan semut, wahai Rasulullah?.
    Nabi Saw menjawab, ‘Ucapkanlah; ‘Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astagfiruka lima la a’lamu.’ (ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu di saat aku mengetahui dan aku memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang aku tidak ketahui).”

    Wallahu a’lam.
    Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah, agar  tidak terlalu panjang renungannya.
    Semoga bermanfaat.
    Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi (Renungan Shubuh ketigabelas,  100062020)


    Materi terkait :