Tampilkan postingan dengan label Ahmad Rusdi Kalibata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Rusdi Kalibata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2020

URGENSI IMAN DALAM MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

Renungan Shubuh
06/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Adalah penting untuk selalu berfikir positif dan bertindak positif, dimana hal tersebut Rasulullah SAW contohkan dalam rumah tangga beliau. Mengkondisikan rumah tangga sangat penting karena walau bagaimanapun rumah tangga akan berpengaruh pada perkembangan kondisi psikologis kita. Namun jangan lupa pula untuk mengkondisikan internal diri kita supaya mendukung terwujudnya kebahagiaan. Hal ini terkait dengan bagaimana sikap, pikiran dan hati kita dalam meraih kebahagiaan. Renungan kali ini lebih fokus pada pribadi Rasul yang merupakan contoh teladan kita untuk menggapai kebahagiaan tersebut. Salah satunya adalah dengan menjaga dan memperkuat keimanan.

Perhatian Rasul terhadap keimanan sangat luar biasa, karena keimanan fondasi utama bagi seorag muslim.  Iman merupakan sumber kebahagiaan yang terbesar. Dengan iman yang kuat seseorang akan mampu menghadapi musibah dan malapetaka, dan dengan iman pula seseorang tidak akan hanyut dengan kenikmatan dunia yang bisa membuatnya lalai kepada Allah SWT. Hal ini dicontohkan Rasulullah SAW bagaimana keimanan beliau yang demikian luar biasa yang membuat beliau senantiasa selalu ingat kepada Allah baik dalam kondisi mendapatkan musibah maupun memperoleh nikmat dan anugerah. Karena  bagi seorang mukmin, musibah maupun kenikmatan, keduanya adalah kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

« عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin itu, urusan apa saja adalah baik baginya. Dan tidak ditemukan kondisi sedemikian melainkan hanya ada pada orang-orang mukmin. Jika dia diberikan dengan sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur. Dan itulah yang lebih baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar. Dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga dan memperkuat iman, Rasululllah SAW mengingatkan kita sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Hakim dan ath-Thabrani:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ
“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”

Memperbaharui iman hendaknya dilakukan setiap saat, karena iman kita tidak seperti Rasulullah yang senantiasa bertambah (yazid wala yanqush). Iman kita di satu saat bertambah dan di saat lain justru kebalikannya yakni berkurang. Untuk menambah keimanan tentu salah satunya adalah dengan menambah ketaatan yang insyaaa Allah akan mendatangkan ketenangan jiwa dan hati. Amalan-amalan yang dapat menumbuhkan keimanan sebagaimana dikatakan Ibnu Ruslan dalam matan Zubad Ibn Ruslan:

فكن من الإيمان في مزيد #
 وفي صــــفاء القلب ذا تجديد بكثرة الصلاة والطاعات #
 وترك ما للنفس من شهوات فشهوة النفس مع الذنوب #
 موجبتــــــان قسوة القـــلوب 

Maka jadilah kamu dalam hal keimanan, bertambah
Dan untuk  memiliki kejernihan hati dengan memperbanyak sholat dan ketaatan, serta meninggalkan sesuatu yang (bisa) menimbulkan syahwat, Karena nafsu syahwat bersama dosa
keduanya faktor yang menyebabkan kerasnya hati.
Dan bila hati seseorang sudah keras hatiya maka dia akan sulit untuk mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. az-Zumar: 22)

Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras dia akan tercela dan berada dalam kesesatan. Seorang ulama benama Syaikh Malik bin Dînâr rahimahullah pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allah Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka.(lihat *Ma'alimut-Tanzil)
Biasanya orang yang hatinya keras akan bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
Bila sudah demikian (kita berlindung kepada Allah dari hati yang seperti ini), inilah yang dikatakan oleh Shohibul hikam syaikh Ibnu Athaillah as-sakandariy bahwa pada hati orang tersebut sudah terdapat tanda/ciri hati yang mati.

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

"Di antara ciri hati yang mati tak ada kesedihan bagi ketaatan yang luput dikerjakan, dan tak ada penyesalan atas dosa yang sudah diperbuat."

Untuk itulah betapa pentingnya kita menjaga, merawat dan memperkuat keimanan kita dengan dengan senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk taat dan beribadah sehingga dengan demikian kebahagiaan akan kita peroleh baik di dunia maupun di akhirat. Amiin.
Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesembilan,  06/06/2020)
Wallahu a’lam.
Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
Kasi Kurikulum pada Direktorat Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren

Home: Kalibata Utara II Pancoran Jaksel





Materi selanjutnya :