Minggu, 25 Maret 2018

"Tolong Menolong dalam Kebaikan"

oleh Ust. Sunardi


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 
(Q.S. Al Ma'idah: 2)

✻✻✻✻✻

DK-Taklim Rutin Dua Pekanan Ahad pagi ba'da Subuh.
Q.S. Al Ma'idah: 2 memuat beberapa ketentuan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala (...janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram...) yang kemudian ayat tersebut ditutup dengan :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
...Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al Ma'idah: 2)

Pada ayat ini, secara redaksional Allah Subhanahu wa Ta'ala memadukan antara perintah dan larangan. Dengan mendahulukan perintah ta’awun (tolong menolong/kerja sama) dalam kebaikan atau perbuatan baik, baru kemudian larangan ta’awun dalam keburukan atau perbuatan dosa.
Dalam ayat ini Allah mendahulukan konsep tahliyah di atas konsep takhliyah.
>> Tahliyah (تحلية) artinya menghiasi diri dengan akhlak yang baik/mulia.
Di sini Allah memerintahkan umat-Nya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang baik/mulia, berupa ta’awun (kerjasama) dalam kebaikan dan takwa.
>> Takhliyah (تخلية) artinya pelepasan/pembersihan diri dari akhlak yang buruk.
Dalam hal ini Allah memerintahkan kepada kita untuk membebaskan diri dari akhlak yang buruk berupa larangan ta’awun (kerjasama) dalam perbuatan buruk atau dosa.

*****

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan :
bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan semua hamba-Nya agar senantiasa tolong menolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan yang termasuk kategori Al-Birr dan mencegah dari terjadinya kemungkaran sebagai realisasi dari takwa. Sebaliknya Allah melarang segala jenis perbuatan batil yang melahirkan dosa dan permusuhan.

Ibnu Katsir mengemukakan hadits yang menjelaskan ayat ini sbb :
>> Hadits pertama :
"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perlakuan mereka adalah lebih baik dan besar pahalanya daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas perilaku mereka." (HR. Imam Ahmad)
>> Hadits kedua :
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi". Maka para sahabat bertanya, "Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?". Rasulullah menjawab, "Mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya". (HR. Bukhari dan Ahmad)

*****

Imam As-Sa’di mendefinisikan : 
>> Al-Birr sebagai yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bekerjasama (ta'awun) dalam segala bentuk perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah, baik perbuatan yang terkait dengan hak-hak Allah maupun hak sesama manusia.
Dalam pandangan Al-Mawardi yang dinukil oleh Al-Qurthubi bahwa perintah ta’awun (tolong menolong/kerja sama) untuk menghadirkan kebaikan dan ketakwaan di tengah-tengah manusia merupakan sebuah perintah yang memiliki korelasi dengan prinsip "hablum minallah dan hablum minannas". 
Ta’awun dalam kebaikan yang bersifat umum merupakan sarana untuk menjaga hubungan baik dengan manusia (hablum minannas), sedangkan ta’awun dalam takwa merupakan sarana untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala (hablum minallah). 
>> Sedangkan itsmi adalah seluruh bentuk perbuatan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, dari perbuatan yang lahir maupun yang batin.

*****

Sebagai individu, kita memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk dapat menegakkan hukum-hukum Allah dalam masyarakat demi terciptanya masyarakat yang berakhlak mulia. Sehingga hubungan kerja sama dalam kerangka menegakkan kebaikan (Al-Birr) merupakan hal yang harus dilakukan. 

Konsep ta’awun yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Q.S. Al Ma'idah: 2, sesungguhnya akan menampilkan persatuan dan keutuhan umat. Perintah ini difahami oleh Ibnu 'Asyur bersifat umum dan tidak terbatas dengan siapapun, sampai dengan non-muslim sekalipun, selama itu dalam konteks Al-Birr (kebaikan), karena berbuat kebaikan adalah fitrah manusia, milik semua manusia (bernilai universal). 

Pada tataran realita, upaya Al-I'tida' atau permusuhan biasanya juga dilakukan dengan bentuk kerja sama (ta’awun), maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar ta’awun itu diarahkan pada hal-hal yang positif, berupa kebaikan dan meningkatkan takwa manusia untuk dapat meredam dan membendung derasnya arus kemaksiatan dan permusuhan yang juga dibangun dengan prinsip ta’awun.

"...dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..."

Bentuk ta’awun secara aplikatif oleh Al-Qurthubi dijelaskan dalam kitab tafsirnya, sebagai contoh beberapa bentuk ta’awun yang bisa dilakukan berdasarkan ayat ini, diantaranya: seorang alim membantu manusia dengan ilmunya, seorang yang kaya membantu orang lain dengan hartanya, seorang yang berani membantu dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan begitu seterusnya.
  • Seorang alim membantu manusia dengan ilmunya. Misalnya melalui majelis taklim di Masjid DK ini, ustad/guru membantu memberi pemahaman terkait hukum-hukum agama kepada para jamaah, 
  • Seorang yang kaya membantu orang lain dengan hartanya. Misalnya dalam hidup bertetangga/ bermasyarakat di perumahan TRB ini, seorang yang kaya/berkelebihan harta membantu tetangga yang berkesusahan secara ekonomi, 
  • pengurus RT, RW, DKM dan warga bahu membahu bekerja sama membina anak-anak dan remaja melalui kegiatan-kegiatan yang positif.
  • dan seterusnya.....
Masing-masing membantu orang lain, tolong menolong, bekerja sama, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Sehingga semestinya, akhlak yang mulia menjadi warna keseharian dari masyarakat dimana umat muslim itu tinggal atau berada. Dan Islam yang rahmatan lil'alamin, Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, akan menjadi kenyataan.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu... (Q.S. Al Ma'idah: 3)

Wallahu a'lam
(Dan Allah yang Maha Mengetahui)



"Langit Syuruq di Lantai DK" : Taklim Ba'da Subuh
@25/3/2018

Taklim Ahad Pagi Ba'da Subuh (Minggu, 25/3/2018)
Pemateri : Ust. Sunardi
Moderator : Ust. Guntur Widodo
Dok. : Abu Zaidan/WA
>> Bidang Dakwah & PHBI

Sabtu, 24 Maret 2018

"MENGENALI GAYA BELAJAR KITA" (Taklim Anak & Remaja)

DK-Taklim Anak & Remaja Malam Ahad.
Mengisi materi taklim malam ahad kali ini adalah Bapak Tri Priyogo. Membawakan materi "Bagaimana mengenali gaya belajar kita" dengan model pembelajaran "Visualization, Auditory, Kinestetic" atau disingkat VAK. Model pembelajaran VAK merupakan gaya yang menggunakan 3 macam sensori dalam menerima informasi yaitu penglihatan (visualization), pendengaran (auditory), dan gerak (kinestetic).

Pemateri menyampaikan, bahwa meskipun kebanyakan anak memiliki kemampuan untuk menangkap materi pelajaran dengan gabungan ketiga hal tersebut, yaitu : penglihatan (visualization), mendengaran (auditory), dan gerak (kinestetic), namun seringkali anak mempunyai kecenderungan yang lebih kuat pada satu dari tiga aspek tersebut. Ini yang kemudian memberi anak atau orang pada umumnya bakat dan kekurangan alami tertentu.

Selanjutnya dengan metode VAK, anak-anak peserta taklim diajak mengenali bagaimana mengenali gaya atau cara pembelajaran yang sesuai dengan potensi kecenderungan penangkapan (sensori) masing-masing dari mereka. Sehingga dengan mengenali gaya pembelajaran yang sesuai maka anak-anak akan dapat secara efektif dan efesien menangkap materi dalam proses belajarnya.

24/03/2018

1. Gaya Visual (Belajar dengan cara melihat)
Belajar menggunakan indra mata. Proses belajar dengan cara mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media/ alat peraga. Seorang anak lebih suka melihat gambar, suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.
Bagi anak yang bergaya visual yang memegang peranan penting adalah mata/ penglihatan. 
Sehingga metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititikberatkan pada peragaan atau media, mengajak anak ke obyek-obyek yang berkaitan dengan materi pelajaran tersebut atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung atau menggambarkannya dipapan tulis.
Ciri-ciri anak yang lebih dominan memiliki gaya belajar visual misalnya lirikan mata ke atas bila berbicara dan berbicara dengan cepat. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat behasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. 
Anak cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Siswa berfikir menggunakan gambar-gambar di otak dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual

2. Gaya Auditori ( belajar dengan cara mendengar)

Belajar dengan kecenderungan mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, mengemukakan pendapat, gagasan, menanggapi dan berdiskusi. 
Anak dengan kecenderungan ini lebih suka belajar dengan cara mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat, dan instruksi (perintah) verbal. Alat perekam sangat membantu pembelajaran anak tipe auditori. 

Setelah membaca sesuatu yang baru, deskripsikan dan ucapkan apa yang sudah dibaca tadi sambil menutup mata dengan suara lantang. Dengan cara ini, ketika mengingat dengan mata tertutup dan dideskripsikan dengan lantang, maka secara otomatis telah belajar dan menyimpannya dalam multi-sensori.
Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar auditori misalnya lirikan mata ke arah kiri/kanan, mendatar bila berbicara dan sedang-sedang saja. Untuk itu, guru sebaiknya memperhatikan anak hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset/rekaman suara.

3. Gaya belajar Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Anak dengan kecenderungan ini lebih suka belajar dengan cara bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri gerakan tubuh aktivitas fisik. Anak kinestetik belajar dengan cara mengalami dan melakukan sendiri dari materi yang sedang diajarkan. 

Ciri-ciri anak yang lebih dominan memiliki gaya belajar kinestetik misalnya lirikan mata ke bawah bila berbicara dan berbicara lebih lambat. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. 

24 Maret 2018

❇❇❇❇❇❇❇

Taklim Anak & Remaja, Sabtu, 24/3/2018
Pemateri : Tri Priyogo
Moderator : Tassa Yudistira

Supervisi : Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (Rosa Herdiansyah)

Minggu, 18 Maret 2018

SAMBUT RAJAB sebagai WAKTU untuk "MENANAM" (Taklim Rutin Ahad Malam)

Oleh : 
Ust. Deden Hidayat


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi (menganiaya) diri kalian dalam bulan yang empat itu."
(Q.S. At-Taubah: 36)

*****

Dalam kitab tafsir Ath-Thabari disebutkan terdapat empat bulan dalam bulan haram yang dimaksud ayat tersebut. Yakni Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab.
Penafsiran tersebut sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadis:
"Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar), sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijah, dan Muharam. Kemudian Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Sya'ban." (HR Bukhari dan Muslim)

********

"BULAN HARAM"

Taklim rutin usai sholat Maghrib berjamaah pada Ahad 18 Maret 2018 hari ini, bertepatan dengan malam tanggal 1 bulan Rajab 1439 H.
Pada taklim kali ini, kita diingatkan untuk bersiap memasuki bulan Rajab, salah satu dari empat bulan haram.

Ada dua akar kata haram :
Pertama,  kata haram (حرام) diturunkan dari kata haruma - yahrumu (حَرُمَ – يَـحْرُمُ) yang artinya terlarang, terlarang untuk dilakukan (al-mamnu’ min fi’lih).
Kedua, kata haram ditarik dari kata al-ihtiram, yang artinya kehormatan (al-Mahabah).

"Kata al-Hurmah (haram) artinya sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Kata al-Hurmah juga diartikan al-Mahabah (kehormatan). Diturunkan dari kata al-Ihtiram. Seperti kata al-Furqah dari al-Iftiraq. (al-Misbah al-Munir, 2/357).

Jadi sekalipun asal katanya berbeda, namun sebenarnya memiliki keterkaitan. Sesuatu yang terlarang disebut haram, karena jika itu dilakukan, berarti melanggar kehormatan yang melarangnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.

.....maka janganlah kalian menzhalimi (menganiaya) diri kalian dalam bulan yang empat itu. (At-Taubah: 36)

*******
Bulan Rajab merupakan bulan ke-7 (tujuh) dalam kalender Islam Hijiriyyah.
  1. Muharram
  2. Shafar
  3. Rabi'ul Awwal
  4. Rabi'ul Akhir
  5. Jumadil Awwal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Sya'ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulqa'dah/Dzulkaidah
  12. Dzulhijjah
Ustadz Deden Hidayat menyampaikan bahwa tidak ada dalil untuk amalan atau ibadah yang dikhususkan di bulan Rajab. Beliau mengajak kepada para jamaah untuk memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan/ ibadah di bulan Rajab. Memperbanyak dan memperbaiki berbagai amalan atau ibadah ini dilakukan sebagai upaya dalam memperbanyak amal kebaikan yang kita 'tanam'. Dengan harapan 'tanaman' amal kebaikan kita akan semakin tumbuh subur di bulan Sya'ban. Dan pada akhirnya, kita akan dapat 'memanen' pengampunan dari Allah ta’ala di bulan Ramadhan.

Sebagaimana dinukil dari Kitab Lathaiful Ma’arif :
"Rajab adalah bulan untuk menanam. Sya’ban adalah bulan untuk menyirami (tanaman). Dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen (tanaman).”

*******

"MENYEGERAKAN, MEMPERBANYAK & MEMPERBAIKI BERBAGAI AMAL KEBAIKAN"

Terkait dengan anjuran agar kita memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan di bulan Rajab, sebagai upaya dalam 'menanam kebaikan', pemateri Ustadz Deden Hidayat menyampaikan doa sbb :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan sholat, wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (Q.S. Ibrahim: 40)

Selanjutnya kiat saat kita memanjatkan doa dan mengerjakan amal shaleh adalah seperti dicontohkan oleh Nabi Zakaria alaihissalam :
  1. Berdoa dengan lembut dan sepenuh hati berharap kepada keridhoan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  2. Ikhlas, berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  3. Selalu menyegerakan diri dalam beramal shaleh/ berbuat kebaikan.
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
"Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik." (Q.S. Al-Anbiya :89)

Doa di atas diucapkan Nabi Zakaria alaihissalam saat sudah mencapai usia senja sedangkan belum dikaruniai anak. Beliau merasa sedih melihat umatnya tidak mengikuti seruan iman dan merasa hidup sendirian di tengah-tengah banyaknya manusia yang ingkar terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam suasana seperti itu, Nabi Zakaria alaihissalam memohon dengan suara yang lembut pada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dikarunia seorang putra saleh yang akan menjadi pewarisnya dalam ajaran tauhid dan iman untuk memimpin umatnya setelah beliau wafat.

Dalam doa ini, sekiranya Allah tidak mengabulkan doanya, yakni memberi keturunan, Zakaria menyerahkan dirinya kepada Allah sebab Allah adalah ahli waris yang terbaik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa Zakaria alaihissalam sehingga istrinya dapat mengandung, selanjutnya dijelaskan dalam ayat berikutnya bahwa :
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami" (Q.S. Al-Anbiya: 90)

Wallahu a’lam
*******

Taklim Ahad Malam (Minggu, 18/3/2018)
Pemateri : Ust. Deden Hidayat
Rangkuman/Editor : Abu Zaidan/WA