Senin, 23 April 2018

Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 1439 H


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Isra: 1)

*****

DK. Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diselenggarakan ba'da Subuh berjamaah pada Ahad 22 April 2018 atau 6 Sya'ban 1439. Acara dipandu oleh Ust. Rosa Herdiansyah sebagai MC. Sebagai pembukaan, pembacaan rawi barzanji dilantunkan oleh Ust. Endang Suprapto dan Ust. Darsim. Kemudian tilawah Al Quran Surah Al-Israa oleh Ust. Yasin dan sari tilawah oleh Bapak Ahmad Chartim.

Ketua Panitia Peringatan Isra' Mi'raj pada tahun ini, Bapak Asep Nurdin kemudian menyampaikan sambutan dan laporan panitia. Dilanjutkan sambutan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Jami Daarul Khairat Bapak Arif Armansyah.

Tausiyah dan hikmah dari Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam disampaikan oleh Ustad Aang Muslih, S.Pd.I dari Sumberjaya

>> Tanda Kekuasaan dan Kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala
Pada peristiwa Isra' Mi'raj, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperjalankan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Al Aqsha (Isra'), kemudian dilanjutkan menuju ke Sidratul Muntaha (Mi'raj) dalam satu malam. Peristiwa ini menunjukkan kebesaran Allah Ta’ala. Satu peristiwa yang tidak mampu dicapai oleh akal manusia, sekaligus menjadi pembeda antara orang-orang yang benar keimanannya dengan orang-orang yang mengkufurinya.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Isra: 1)

Pada peristiwa Isra' Mi'raj, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan perintah shalat fardu lima waktu dalam sehari semalam. Begitu pentingnya perintah shalat sehingga Allah memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menerima perintah langsung di Sidratul Muntaha.

>> Shalat merupakan pembeda antara muslim dengan orang kafir 
"Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (H.R. Muslim) 
"Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Amal yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat, apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain. Jangan sampai kita dan keluarga kita meninggalkan shalat. 

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,.... (Q.S. Al-Muddatstsir: 42-43)

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,... (Q.S. Maryam: 59)

Dari Jabir radhiyallahu`anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat. (H.R. Muslim)

Wallahu a’lam



Ust. Aang Muslih, Ketua & Pengurus DKM,
Panitia serta Jamaah foto bersama


Sambutan Ketua DKM :
Arif Armansyah 








*******

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 1439H
Ahad Pagi Ba'da Subuh (22/04/2018)
Supervisi : Bidang Dakwah & PHBI
Dokumentasi : Musrizal

Minggu, 15 April 2018

"HATI YANG MATI" - Taklim Ahad Malam


Oleh : Guntur Widodo

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" 
(Q.S. Al-Jumu'ah : 8).

*******

Ustad Guntur membuka taklim dengan pertanyaan, "Kapan dan dimana kita akan mati ?"
"Bukan masalah kapan dan dimana kita akan mati, tetapi apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapinya" lanjutnya.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah menghembuskan nafas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis. Dalam Islam, peristiwa kematian menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Banyak manusia yang sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, karena : sedekah jariyah semasa hidupnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang selalu mendoakannya. Mereka mati jasad, tapi pahalanya terus hidup.

Sesungguhnya yang perlu kita khawatirkan adalah 'matinya hati' saat kita masih hidup. Orang yang hatinya telah mati melakukan perbuatan baik atau pun buruk rasanya akan sama saja, biasa-biasa saja dan tidak ada nilainya sama sekali.

Tanda-tanda 'hati yang mati' adalah sebagai berikut:

1. Tarkush sholah 
(Berani meninggalkan sholat fardhu)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kepada kita tentang hal ini melalui firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui ghayya (kesesatan)." (Q.S. Maryam: 59)

'Ghayya' pada ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu`anhu sebagai sungai atau lembah di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.

2. Adzdzanbu bil farhi 
(Tenang tanpa merasa berdosa padahal melakukan dosa besar)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu`anhu berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (H.R. Bukhari)

Di antara ciri keimanan seseorang kepada Allah adalah rasa takut dan khawatir yang sangat besar dan mendalam terhadap dosa-dosanya. Karena setiap dosa kelak akan menjadi kepedihan mendalam dan menjadi bara neraka yang menyiksa dan menyengsarakannya. Maka ia merasa takut, seolah ia seperti berada di lereng sebuah gunung yang menjulang dan ia khawatir gunung tersebut akan jatuh menimpanya.
Sementara seorang ahli maksiat ia tidak takut akan perbuatan maksiat dan dosa-dosanya, sehingga setiap hari hidupnya bergelimang dengan kemaksiatan dan dosa. Ia menganggap remeh dosa-dosanya, seakan seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dan ia mengatakan, "Seperti ini saja". 

3. Karhul Quran 
(Tidak mau membaca bahkan menjauhi ayat-ayat Al Quran)

Dari Abu Musa al-Asy`ari radhiyallahu`anhu berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Quran ialah seperti buah utrujjah, baunya enak dan rasanya pun enak.
Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis.
Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca Al Quran ialah seperti tumbuhan harum raihanah, baunya enak namun rasanya pahit.
Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Quran ialah seperti buah hanzolah, tidak ada baunya dan rasanya pun pahit.

Tanda bahwa hati seseorang yang telah mati adalah ketika disampaikan firman Allah ia tidak akan tersentuh hatinya. Tidak mau mendengar dan lalai membaca Al Quran sehingga berpaling dari Al Quran. Padahal Al Quran adalah sebenar-benarnya petunjuk dari Allah untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

4. Hubbul ma’asyi 
(Terus menerus melakukan maksiat)

Dalam pergaulan sehari-hari maupun media massa sering kita jumpai orang yang telah melakukan maksiat dan dengan bangganya, tanpa rasa malu, menceritakan perbuatannya tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu`anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, "Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu". 
Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

5. Asikhru 
(Sibuknya hanya suka mengumpat, buruk sangka, merasa dirinya lebih suci)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci". 
Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?"
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)” (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).

6. Ghodbul ulamai
(Sangat benci dengan nasehat baik dari ulama)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta" (Q.S. Al Baqarah: 10)

Orang yang telah tertutup hatinya akan memiliki hati yang membatu, keras dan tidak mempan dengan berbagai macam nasehat. Ia juga sangat membenci nasehat-nasehat baik dari para ulama. Mata dan telinga mereka tidak mau digunakan untuk melihat dan mendengarkan kebaikan.

7. Qolbul hajari
(Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, siksa kubur dan akhirat)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
"Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu di hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (H.R. Ibnu Majah).

8. Himmatuhul bathni
(Cinta/gila pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah diterima sholat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (H.R. Muslim)

9. Anaaniyyun
(Tidak mau tahu atau masa bodoh dengan keadaan orang lain)

Anaaniyyun adalah orang tidak mau tahu atau masa bodoh dengan keadaan orang lain bahkan kepada keluarganya sendiri sekalipun menderita, dayus dan tidak bertanggungjawab.

Dalam riwayat seorang Sahabat bertanya:
"Apakah itu Dayus ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab :
"Yaitu seorang lelaki yang membiarkan kejahatan (zina, membuka aurat, pergaulan bebas) dilakukan oleh ahlinya (istri dan keluarganya)."


10. Al intiqoom
(Pendendam hebat)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam”. (H.R. Bukhari).

11. Albukhlu
(Sangat bakhil/kikir)

Allah berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Ali Imran: 180)

Maksudnya, Allah akan menjadikan harta yang ia bakhil untuk menginfakkannya sebagai beban di pundaknya pada hari kiamat. 

12. Ghodhbaanun
(Cepat marah karena keangkuhan dan dengki)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan/menahan emosinya ketika marah." (H.R. Bukhari)

Wallahu a’lam


*******


Taklim Ahad Malam (15/04/2018)
Pemateri : Ust. Guntur Widodo
Moderator : Achmad Chartim
Supervisi : Bidang Dakwah & PHBI

Sabtu, 31 Maret 2018

"Bimbingan Pemanfaatan Internet Bagi Anak-anak" (Taklim Anak & Remaja)

oleh Abu Zaidan



بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

DK-Taklim anak dan remaja malam ahad.

Pemateri mengawali sapaan kepada anak-anak peserta taklim dengan tawaran :
"Kita mau belajar malam ini dengan serius atau santai?"
Sesaat saling bertatapan, lalu beberapa anak menjawab, "Yang serius pak !!"
Namun tak kurang banyak yang menjawab, "Yang santai sajaaaa !!"
"Baik dua-duanya saja ya.....serius tapi santai, santai tapi serius...."

"Coba sekarang apa yang saya pegang di tangan kanan saya ini?" tanya pemateri sambil mengangkat gelas air mineral di tangan kanannya.
"Aiirrrrr mineral !!!" jawab anak-anak riuh rendah
"Sebut saja 'air' ya..... Lalu ini apa ??" sambil mengangkat snack kue jatah peserta taklim di tangan kirinya.
"Kuuuueeeehhhhhh !!!" sambut anak-anak.

Pemateri kemudian meminta peserta taklim untuk bersama-sama menyebutkan benda (air atau kue) sesuai dengan tangan yang diangkat pemateri secara bergantian.

"Sekarang, coba kalian sebutkan kebalikannya ya... Bila 'air' di tangan kanan yang saya angkat, sebutkan 'kue' dan bila 'kue' yang saya angkat kalian sebutkan 'air'...."

Awalnya, beberapa anak masih kagok dan salah sebut. Tetapi setelah beberapa kali, anak-anak kemudian menjadi terbiasa dengan jawaban yang dibalik tersebut.

"Oke....cukup !!..cukup !!..."
"Ternyata mudah ya mengajak orang untuk melakukan hal yang salah..."
Seorang anak menjawab lantang, "Kan bapak yang nyuruh !!" 😂😂

"Sekarang saya tanya, siapa yang suka nonton televisi?"
Semua peserta mengangkat tangan dan berteriak, "Sayaaaaaaa !!!!"

"Lalu, coba siapa yang suka buka internet ? Baik di warnet, di rumah maupun di hand phone atau android... "
Semua peserta mengangkat tangan dan berteriak, "Sayaaaaaaa !!!!"
"Pertanyaan saya selanjutnya....apa yang kalian buka atau lihat di televisi maupun di internet ??"

"Banyak pak !! fileemmm !! sinetrooonn !!....... youtube pak bisa nonton dangdutan !!" 
"Chatting pak !!...main game pak asyiikkk !!" jawab anak-anak dengan semangat. 

"Itu saja ?!?! Ada nggak yang suka nyari bahan untuk mengerjakan tugas sekolah di internet ??"
"Iya pak saya !!..." jawab separuh dari 22 peserta taklim yang hadir.
"Oke...bagus !!! ternyata masih ada dari kalian yang bisa mengambil manfaat kebaikan dari internet."

Saat anak-anak diminta menyebutkan mengenai hal apa saja yang dapat dilihat, disaksikan dan didengar ketika mereka mengakses internet, misalnya, saat main game online, maka sambil menyebutkan sebuah judul game online beberapa anak menjawab dengan lugas :
"Pakaian orang-orangnya yang perempuan 'ngga' jelas pak !! keliahatan pusernya.....terus kalau ada yang kalah, pemeran dalam game-nya biasanya ngomong kasar (mengumpat) pak !!"
"Hal-hal tersebut sesuai ngga dengan tuntunan Islam ??" tanya pemateri.
"Tidaaakkkk !!" serentak anak-anak menjawab.

Sekilas dialog dengan anak-anak tersebut, kiranya dapat membuka kesadaran kita, bahwa dasar fondasi agama dari anak-anak sebetulnya sudah ada. Baik yang mereka dapat melalui pembelajaran dan bimbingan langsung dari orang tua di rumah; melalui pelajaran agama di sekolah ataupun yang didapat dari pengajian/taklim yang mereka ikuti. Mereka sudah tahu hal perbuatan yang baik dan yang buruk menurut Islam. 
Namun karena kita hidup di era keterbukaan informasi, jika orang tua tidak mendampingi dan membimbing anak-anak saat menggunakan media-media informasi, maka lambat laun akidah akhlak dari anak-anak kita akan semakin terkikis. Akidah dan akhlak anak-anak kita akan rusak tergerus oleh derasnya gempuran nilai-nilai yang tidak sesuai dengan aturan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Kemudian pemateri memaparkan kepada anak-anak, bahwa saat kita mengakses internet atau sering disebut dunia maya, banyak hal yang dapat kita jumpai. Baik pengetahuan yang bermanfaat maupun hal buruk yang dapat merusak nilai-nilai akidah akhlak terpuji yang selama ini kita taati.

Pemateri kembali bertanya :
"Saat kalian membuka, menyaksikan gambar maupun tayangan film atau video di internet yang isinya tidak sesuai dengan tuntunan agama...... tahukah kalian ada hal-hal buruk yang secara tidak sadar sedang ditanamamkan di otak atau pikiran kalian ??"
Anak-anak terdiam.

Sejurus kemudian, pemateri mengajak peserta taklim mendekat, mengelilingi permadani besar ukuran 2x3 meter yang berada di mihrab imam Masjid DK. Rekal dengan mushaf Al Quran di atasnya diletakkan tepat di tengah-tengah permadani. Selanjutnya anak-anak diminta untuk mengambil mushaf Al Quran tersebut dengan syarat tanpa menginjak permadani. Sesaat anak-anak mencoba dengan berbagai cara, kemudian menyerah.




Mushaf Al Quran di atas rekal 

Pemateri kemudian menunjukkan caranya, yaitu dengan menggulung salah satu sisi permadani sampai mendekati tengah sehingga Al Quran dapat diambil tanpa menginjak permadani tadi.
"Kita simpan dulu pertanyaan di kepala kalian !!"
"Mari kita buka Quran Surah Al Baqarah ayat 217" ajak pemateri kepada anak-anak.


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.


Dari Q.S. Al Baqarah (217), Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan kepada kita bahwa musuh-musuh Islam tidak akan ada henti-hentinya memerangi kita, hingga kita mengikuti mereka, hingga kita keluar dari perintah-perintah Allah atau menjadi kafir. Mereka tidak suka melihat umat Islam menjadi kuat, kuat iman akidahnya, maju ilmu pengetahuannya, pandai generasi mudanya.

Musuh-musuh Islam, yaitu mereka golongan kaum kafir, musyrikin dan munafik, selalu berusaha memerangi umat Islam dengan berbagai cara. 
Hari ini, ketika mereka tidak berani memerangi secara terang-terangan umat muslim Indonesia, mereka gencar menggunakan media informasi dan internet. Tujuan akhirnya adalah merusak akidah dan akhlak generasi muda Islam.

Mereka sadar akidah kita sulit untuk digoyahkan dengan cara kekerasan, maka mereka mencoba melemahkan generasi muda melalui media-media informasi, melalui dunia maya/internet. Melalui tayangan media hiburan yang melenakan maupun melalui media informasi yang mengaburkan batas antara kebenaran dengan kebatilan.

Aplikasi hiburan dan game online yang berisi muatan yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam. Selain tidak sesuai dengan norma-norma Islam, game-game tersebut juga membuat kita kecanduan, lupa waktu, malas mengerjakan aktifitas lain yang menjadi kewajiban, seperti melupakan kewajiban sholat lima waktu dan belajar.     

*****

>>> "Peragaan di awal tadi, merupakan contoh sederhana bagaimana kalian disesatkan dengan pelan-pelan dan tanpa sadar" kata pemateri kepada anak-anak.

>>> "Kemudian pada peragaan kedua adalah contoh sederhana, saat umat Islam dan generasi mudanya yang sudah dilemahkan akidahnya, menjadi malas dan bodoh secara intelektual....maka tanpa harus diserang atau perang dengan menggunakan senjata-senapan, bom dan tentara, musuh-musuh Islam akan 'menggulung' kalian. Sumber segala sumber ilmu dan ajaran kita yaitu Al Quran dan hadits, kemudian akan mereka gantikan dengan nilai-nilai yang sesat dan menyesatkan."

.....Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup..... (Q.S Al Baqarah: 217)

*****

"Coba saya tanya, kalau kalian membuka internet di komputer menggunakan program atau aplikasi apa ??"

Anak-anak menjawab riuh bersahutan, menyebutkan beberapa nama aplikasi web browser.
Web browser adalah suatu program/ software yang digunakan untuk menjelajahi internet atau untuk mencari informasi dari suatu web yang tersimpan di dalam komputer. Jawaban anak-anak, membuktikan bahwa mereka tidak gaptek, gagap teknologi. Peserta taklim yang terdiri dari anak kisaran kelas 3 SD sampai dengan kelas 10 SMA sudah mengenal beberapa nama-nama web browser. Dan kita yakin mereka sudah akrab dan biasa menggunakannya.

"Adakah nama-nama dari aplikasi browser, aplikasi game, aplikasi untuk chatting, tersebut yang bernama Islam ?? Mengapa ??"
Salah satu anak menjawab, "Tidak ada pak, karena yang membuat bukan orang Islam !!"

"Oke......kira-kira lima atau sepuluh tahun yang akan datang, bisa ngga generasi muda Islam seperti kalian menciptakan aplikasi semacam itu ??"
Sambil menunjuk kepada beberapa anak peserta taklim (Rasyid, Arsya, dan Mutia) pemateri melanjutkan obrolannya :

Sehingga suatu hari nanti, akan lebih asyik ketika kita akan menggunakan internet maka kita berkata, "Ehh.....ayo kita cari bahan pelajaran di aplikasi 'Rasyid' (petunjuk).... bukan lagi mbah google..."

Atau saat anak-anak akan bermain game online mereka akan berteriak, "Ayo kita main petualangan samudra di game online 'Arsya'...."

Atau suatu saat, orang akan bilang, "Tolong friend....aku di add di aplikasi 'Mutia' ya ...jadi aku bisa nge-chatt gratis dengan kamu..."

"Tentu saja aplikasi yang kalian buat nanti adalah aplikasi yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai Islam."

Beberapa anak menjawab, "Inshaa Allah bisa !!"
Tiba-tiba salah seorang anak berteriak, "Takbir !!"
Disambut oleh para peserta yang lain, "Allahu akbar !!"

Pemateri melanjutkan, "Dengan syarat mulai hari ini  kalian harus..." :

  1. Kalian harus selalu taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta patuh kepada kedua orang tua.
  2. Kalian harus rajin belajar, disiplin mengatur dan membagi waktu : waktu beribadah, waktu belajar dan waktu bermain;
  3. Kalian harus dapat memanfaatkan teknologi internet untuk hal-hal yang bernilai kebaikan dan mendukung tugas kalian dalam belajar. Dan menghindari atau menjauhi hal-hal batil saat menggunakan internet.
Beberapa pemanfaatan web browser kemudian dicontohkan langsung kepada anak-anak peserta taklim :

"Metamorfosis"
Pencarian materi pelajaran IPA kelas 5 SD 
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Rumus Bangun Datar 
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Rumus Kimia Gula
Materi pelajaran Kimia - Kelas 10 SMA
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Surah dan Ayat dalam Al-Quran online 
dengan mesin pencarian (web browser)

Taklim diakhiri dengan doa :

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-baatila baatilan warzuqnaj-tinaabah

"Ya Allah tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya."



Taklim Anak & Remaja Malam Ahad (Sabtu, 31/3/2018)
Pemateri : Abu Zaidan/WA
Moderator : Tassa Yudistira
Supervisi : Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (Rosa Herdiansyah)