Selasa, 09 Juni 2020

'UJUB, Ciri Hati yang Sedang Turun

Renungan Shubuh
Oleh Ahmad Rusdi

Kali ini akan membahas hati yang turun (khofdh al-qolbiy). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa indikator hati seseorang sedang turun yang pertama adalah, bangga diri; kedua, pamer/riya, dan;  ketiga tamak yaitu perhatiannya selalu terfokus ke dunia saja.

Kita bahas yang pertama, bangga diri (‘Ujub).
Saya pernah ditanya tentang perbedaan antara ‘ujub (berbangga diri) dengan takabbur (sombong). Pertanyaan sederhana tapi lumayan sulit untuk menjawabnya. Dari referensi yang saya baca terutama kitab Ihya ‘Ulumiddin pada bab 29 tentang tercelanya sifat takabbur dan ‘ujub, dijelaskan bahwa takabbur itu perangai yang ada pada jiwa, yaitu merasa bangga dan condong untuk supaya dirinya dilihat orang lain (orang yang disombongi) dan obyek yang disombongkannya.

Sementara ‘ujub itu hanya melibatkan dirinya sendiri, tidak melibatkan orang lain. Bahkan kata Imam al-Ghazali, jika saja manusia tidak diciptakan kecuali diri orang yang ‘ujub ini, niscaya ia masih bisa berlaku ‘ujub, dan ia tidak bisa --dibayangkan akan (bisa)-- bersikap sombong, karena sombong itu butuh orang lain selain dirinya. Orang yang sombong ini melihat bahwa dirinya berada di atas orang lain dengan sifat-sifat kesempurnaan. Oleh karena itu bila sudah berada pada kondisi seperti ini, maka orang tersebut disebut sombong.

Sementara ‘ujub berupa perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri. Yang perlu difahami, penyakit ‘ujub ini berbahaya karena bisa mengundang kesombongan. Oleh karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hal ini dalam sabdanya:

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
                                                                      
“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Aushoth ).

Oleh karenanya kita perlu hati-hati dengan penyakit ini. Karena godaan terhebat dari seorang yang sukses dalam hal rizki dan kekayaan, sukses dalam jabatan, keturunan dan juga sukses ilmu adalah rasa bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Sungguh, inilah penyakit hati orang sukses yang siapa saja bisa  terkena, termasuk saya yang menulis renungan ini. Padahal aib dan cacat kita begitu banyak, hanya karena rahmat dan kasih sayang Allah-lah aib dan cacat kita ditutup sehingga tidak diketahui orang lain. Allahummas tur ‘auratina.., Ya allah tutuplah cacat dan aib kami...amiin.
                                                                     
Dalam al-Qur-an, Allah juga mengingatkan tentang hal ini:
لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ

".....Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri." (Q.S. al-Qashash:76).

Dan di ayat lain,  Allah berfirman:
" ......Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa." (Q.S. an-Najm:32).

Diriwayatkan pada suatu kesempatan Rasulullah SAW  mengingatkan para sahabat yang dikasihinya:

"Takutlah kalian pada al-ujba' ". Hal ini beliau ulangi sampai tiga kali.
Sahabat bertanya: ”Apa itu al-ujba' ya Rasulallah?”
Rasul menjawab : "Yaitu bangga dan dan kagum pada diri sendiri.”

Dalam riwayat lain Sayyidah Aisyah pernah ditanya: “Siapakah orang yang terkena ‘ujub?”
Beliau menjawab: “Bila seseorang merasa bahwa ia telah menjadi orang baik.”

Untuk itulah kita perlu hati hati terhadap virus 'ujub. Karena virus ini bisa masuk kemana saja dalam ranah kehidupan kita, hatta (bahkan) ibadah yang kita lakukan.
Semoga Allah menjauhi kita dari penyakit ‘ujub…amiin.

Lalu bagaimana kiat untuk menjauhi sifat sombong dan 'ujub ini?
Dalam kitab Nashoihul Al Ibad, Imam Nawawi Al Bantani mengutip nasihat Syekh Abdul Qodir Al Jaelani terkait hal ini. Berikut nasihatnya:

  • Pertama, ketika kita bertemu orang lain maka pastikan kita berkata bahwa orang ini lebih baik dari pada kita. Katakanlah pada diri kita, bisa jadi orang ini lebih baik di sisi Allah SWT dari pada kita dan dia lebih tinggi derajatnya.
  • Kedua, jika pun orang lain itu adalah anak kecil, maka katakan dalam diri kita bahwa ia lebih baik dari kita karena ia belum bermaksiat kepada Allah SWT. Sedangkan kita sudah banyak bermaksiat kepada-Nya. 
  • Ketiga, jika yang kita temui adalah orang yang sudah tua, maka katakan bahwa orang ini sudah beribadah lebih banyak kepada Allah SWT dari pada kita.
  • Keempat, jika yang kita temui adalah orang yang punya ilmu, maka katakan pada diri sendiri bahwa orang ini sudah mendapat apa yang belum kita dapatkan dan telah mengetahui apa yang belum kita tahu. Secara otomatis dia mampu beramal dengan menggunakan ilmunya lebih banyak dari kita.
  • Kelima, jika kita bertemu dengan orang kurang ilmunya, maka katakan pada diri kita bahwa orang ini bermaksiat kepada Allah SWT karena ketidaktahuannya. Sedang kita sering bermaksiat padahal kita sudah tahu.
  • Keenam, jika kita berjumpa dengan orang Non-Muslim, maka katakanlah, “Aku tidak tahu, mungkin saja nantinya ia masuk Islam, kemudian mempunyai amal baik di akhir hayatnya, dan mungkin saja aku akan menjadi kafir, kemudian aku mempunyai amal buruk di akhir hayatku

Dan yang perlu kita sadari dan ingat ialah bahwa saat jari telunjuk kita mengarah kepada saudara kita yang kita anggap bodoh, bersalah, tidak suci, lebih berdosa, kurang beriman, kurang sholeh dan dianggap tidak pantas masuk surga sejatinya ada empat jari lain yang mengarah ke diri kita sendiri.

Di akhir renungan, saya nukilkan doa yang  masyhur di kalangan mereka yang menghafalkan al-Qur-an (para hafizh) terkait permohonan agar kita dijauhkan dari penyakit hati sebagaimana terdapat dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalati al-Qur-an karya asy-Syaikh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang biasa kita kenal dengan nama imam an-Nawawi.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَأَزِلْ عُيُوْبَنَا وَتَوَّلَنَا بِالْحُسْنَى وَزَيِنَّا بِالتَّقْوَى وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَ الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا

”Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah aib  (keburukan kami), bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami dengan ketakwaan, kumpulkanlah untuk kami kebaikan akhirat dan dunia dan anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan kami."

Wallahu a’lam.
Maaf baru mengupas ‘ujub saja, agar  tidak terlalu panjang renungannya.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat
Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi (Renungan Shubuh keduabelas,  09/06/2020)



Materi terkait :

Senin, 08 Juni 2020

"PERUBAHAN HATI"

Renungan Shubuh
Senin, 08/06/2020
oleh Ahmad Rusdi


Membahas masalah hati memang menarik karena disamping kebahagiaan yang merupakan tema renungan sejak awal, sangat tergantung pada hati yang juga terkait dengan amal ibadah kita. 
Dalam kitab al-Wafi Syarah hadits al-arba’in an-Nawawi saat mengupas masalah niat, Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho dkk mengutip pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad yang mengatakan bahwa amal ibadah kita ada tiga unsur: hati, lisan dan badan/perbuatan. Jadi unsur hati menempati posisi sepertiga dari amal ibadah kita.

Imam Abu Daud ketika mengomentari hadits Innama al-a’malu bi an-niyat yang menjelaskan tentang niat, mengatakan bahwa niat yang terletak di hati itu adalah setengah dari agama, karena amal yang terkait dengan agama (ibadah) itu terbagi menjadi dua, yaitu zhahir dan batin. Jadi hati sebagai tempatnya niat menempati posisi separuh ibadah.

Mengingat peran dan posisinya yang sangat strategis pada diri kita, maka, mohon maaf, bila renungan kali ini masih melanjutkan tentang hati. Namun renungan ini mungkin tidak membahas secara teoritis terkait hati seperti yang dibahas dalam kitab ihya ‘ulumid Din di bab Fi ‘Ajaib al-Qolbi’ yang sangat luar biasa yang saya pun menyadari masih sangat perlu  bimbingan dalam menelaah dan mengkajinya.
Renungan kali ini mengutip bab hati yang dikarang oleh Imam al-Ghazali juga tapi dari kitab yang lebih sederhana yaitu Minhaj al-‘Arifin

Di bab kedua dari kitab tersebut (bab 'al-Ahkam') beliau menjelaskan tentang perubahan hati :

" إعراب القلوب على أربعة أنواع: رفع وفتح وخفض ووقف، فرفع القلب في ذكر الله، وفتح القلب في الرضا عن الله تعالى، وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى، ووقف القلب في الغفلة عن الله تعالى فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , وفقد المخالفة , ودوام الشوق  وعلامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , والصدق , واليقين  وعلامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , والرياء , والحرص وهو مرعاة الدنيا  وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال."

Kutipan kitab di atas akan saya terjemahkan dengan menambahkan penjelasan yang diperlukan. Perubahan hati menurut Imam al-Ghazali ada empat macam: 

  • pertama, hati yang terangkat/naik saat kita berzikir kepada Allah;
  • kedua, hati yang terbuka bila kita ridho kepada Allah SWT;
  • ketiga, hati yang turun bila kita sibuk dengan selain Allah SWT dan;
  • keempat, hati yang berhenti/mati ketika kita lalai dari Allah SWT.

Selanjutnya beliau menjelaskan indikator dari keempat macam hati tersebut. Untuk memiliki hati yang terangkat/naik maka yang hendaknya dilakukan adalah:
Pertama, adanya kesesuaian yaitu kesesuaian perilaku kita dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.
Kedua, tidak adanya mukholafah yaitu prilaku kita tidak menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Ketiga, senantiasa ada kerinduan. Kerinduan untuk beribadah dan kerinduan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Bukankah salah satu tanda cinta kepada Allah adalah kita senantiasa rindu kepada-Nya, rindu untuk berjumpa kepada-Nya. Rasa rindu ini hendaknya kita rawat sehingga menjadi motivasi serta inspirasi kita untuk beribadah. Ketika rindu bersemayam di hati, kita kembalikan kepada sang pencipta hati dengan cara bersujud, berzikir dan berdoa  serta merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya.

Sementara untuk hati yang terbuka, indikatornya adalah:
Pertama, tawakkal (kepasrahan). Sejatinya seorang muslim memiliki kepasrahan karena salah satu makna Islam itu tunduk dan pasrah. Hanya makna tawakkal ini yang mungkin perlu diluruskan. Dalam tawakkal ada ikhtiar. Jadi tawakkal dan kepasrahan kita adalah tawakkal/kepasrahan yang aktif bukan pasif.  Namun yang hendaknya kita fahami juga adalah bahwa dalam kepasrahan dan sikap tawakkal sejatinya kita sadar bahwa sebaik-baik rencana kita, tentu lebih baik rencana yang Allah tentukan buat kita. Dengan tawakkal inilah justru kemuliaan kita akan nampak, karena orang yang bertawakkal itu tidak akan bergantung kecuali kepada Allah SWT.

Indikator kedua dari hati yang terbuka adalah memiliki kejujuran. Jujur merupakan kata yang sangat sederhana, hanya terdiri dari lima huruf tetapi pengaruhnya bagi yang memiliki sangat luar biasa. Karena kejujuran itu akan membawa seseorang kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarnya ke surga yang Allah janjikan.             

Sahabat Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:


عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kamu berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Jika seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dai akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur…."

Indikator terakhir adalah keyakinan. Dalam hal ini kita harus yakin bahwa sesunguhnya kita yang butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. Keyakinan seperti ini akan mengantarkan kita untuk taat kepada-Nya.Karena hakikatnya ketaatan yang kita lakukan itu untuk kebaikan kita sendiri dan tidak berpengaruh kepada kekuasaan Allah SWT. 
Dalam hadits qudsi sebagaimana dikutip dalam kitab Nashoih al’Ibad dan juga di al-arbain an-Nawawi dijelaskan bahwa seandainya  manusia dan jin berada dalam keadaan paling bertaqwa, niscaya tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun pada kerajaan Allah. Begitu pula dalam kedurhakaan tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

Keyakinan bahwa kita butuh Allah yang mengantarkan kita taat kepada-Nya, hendaknya diiringi dengan keyakinan bahwa Allah selalu melihat kita dalam kondisi apapun sehingga hal ini mendorong kita untuk berhati-hati dalam bertindak dan beramal. Karena kita juga harus yakin bahwa amal kita yang berupa kebaikan akan mendapat balasan berupa pahala dan amal kita yang berupa keburukan akan mendapat balasan dan kita pertanggungjawabkan nanti di yaumil qiyamah.

 فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ # وَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ   

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. ( Q.S. Al-Zalazalah : 7-8)



Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah.
Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesebelas,  08062020)




Artikel terkait :


Minggu, 07 Juni 2020

"OBAT HATI YANG MATI"

Renungan Shubuh
Ahad, 07/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Bahasan tentang hati yang keras kemarin, ada sahabat yang minta untuk diuraikan lebih dalam. Renungan shubuh kali ini kita coba membahas hal tersebut tentu dalam kapasitas keilmuan saya yang masih perlu banyak belajar dan mengaji kembali kepada guru dan ulama-ulama kita.

Tidak sedikir ulama yang mengupas tentang faktor penyebab hati menjadi keras, namun secara garis besarnya adalah karena  perbuatan dosa dan maksiat serta lalai dari perintah Allah SWT (masih ingat surat az-Zumar ayat 22 …silahkan ditengok kembali).
Rasulullah SAW mengibaratkan bila seseorang melakukan perbuatan dosa maka dihatinya akan muncul titik-titik hitam. Dan titik-titik hitam ini akan semakin banyak dan bisa menutupi hatinya (cahaya yang ada di hatinya) bila ia tidak bertobat dan terus menerus bermaksiat.Tapi bila ia bertaubat dan meminta ampun, insyaa Allah hatinya kembali dibersihkan dan cahaya hati akan kembali bersinar.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu  menutupi hati mereka’.” HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Hati yang keras ini bila dibiarkan berlanjut dan terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa, dikhawatirkan akan membatu (qulbun mayyitun), kondisi dimana seseorang secara pisik jasadnya hdup tapi hatinya mati. Dan bila sudah dalam kodisi seperti ini, disitulah seseorang justru merasakan nikmat ketika bermaksiat dan merasa tidak nyaman saat beribadah. Bukan sebaliknya, nikmat dalam beribadah dan tidak nyaman dalam bermaksiat. Kondisi hati yang seperti ini Imam al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul al-Arifin, menyebutnya dengan istilah "Waqf al-qolbi", hati yang berhenti/mati..

Lalu apakah obatnya sehingga hati tidak keras dan bahkan bisa lembut sehingga mudah menerima hidayah taufik dan mudah melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Untuk melembutkan hati, berikut hal-hal  yang  hendaknya diperhatikan dan dilakukan:

1. Memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah :
ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رجلاً شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال: "إن أردت أن يلين قلبك فأطعم المساكين وامسح رأس اليتيم"
“Apabila engkau menginginkan kelembutan pada hatimu maka berilah makan kepada orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad )

2. Banyak berzikir dan membaca al-Qur-an dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya). Firman Allâh SWT:
 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram (Q.S ar-Ra’d: 28).

3. Memohon kepada Allâh agar hati bisa khusyu’. Salah satunya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا         

“Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

4. Memperkaya ilmu terutama ilmu keislaman dan hikmah yaitu suatu kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih sebagaimana dikatakan oleh Imam Muh. Al-Ghazali dalam kitab ihya ‘Ulumid Din-nya.                                                                                                 
5. Berteman dan berkumpul dengan orang sholeh yang bisa mengingatkan kita kepada Allah SWT.
Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandariy dalam 'hikam'-nya mengatakan: 

لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
“Janganlah berteman kepada orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak mengantarkan/menunjukkanmu kepada Allah.”

Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesepuluh,  07062020)


Artikel terkait :