Senin, 08 Juni 2020

"PERUBAHAN HATI"

Renungan Shubuh
Senin, 08/06/2020
oleh Ahmad Rusdi


Membahas masalah hati memang menarik karena disamping kebahagiaan yang merupakan tema renungan sejak awal, sangat tergantung pada hati yang juga terkait dengan amal ibadah kita. 
Dalam kitab al-Wafi Syarah hadits al-arba’in an-Nawawi saat mengupas masalah niat, Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho dkk mengutip pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad yang mengatakan bahwa amal ibadah kita ada tiga unsur: hati, lisan dan badan/perbuatan. Jadi unsur hati menempati posisi sepertiga dari amal ibadah kita.

Imam Abu Daud ketika mengomentari hadits Innama al-a’malu bi an-niyat yang menjelaskan tentang niat, mengatakan bahwa niat yang terletak di hati itu adalah setengah dari agama, karena amal yang terkait dengan agama (ibadah) itu terbagi menjadi dua, yaitu zhahir dan batin. Jadi hati sebagai tempatnya niat menempati posisi separuh ibadah.

Mengingat peran dan posisinya yang sangat strategis pada diri kita, maka, mohon maaf, bila renungan kali ini masih melanjutkan tentang hati. Namun renungan ini mungkin tidak membahas secara teoritis terkait hati seperti yang dibahas dalam kitab ihya ‘ulumid Din di bab Fi ‘Ajaib al-Qolbi’ yang sangat luar biasa yang saya pun menyadari masih sangat perlu  bimbingan dalam menelaah dan mengkajinya.
Renungan kali ini mengutip bab hati yang dikarang oleh Imam al-Ghazali juga tapi dari kitab yang lebih sederhana yaitu Minhaj al-‘Arifin

Di bab kedua dari kitab tersebut (bab 'al-Ahkam') beliau menjelaskan tentang perubahan hati :

" إعراب القلوب على أربعة أنواع: رفع وفتح وخفض ووقف، فرفع القلب في ذكر الله، وفتح القلب في الرضا عن الله تعالى، وخفض القلب في الاشتغال بغير الله تعالى، ووقف القلب في الغفلة عن الله تعالى فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , وفقد المخالفة , ودوام الشوق  وعلامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , والصدق , واليقين  وعلامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , والرياء , والحرص وهو مرعاة الدنيا  وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال."

Kutipan kitab di atas akan saya terjemahkan dengan menambahkan penjelasan yang diperlukan. Perubahan hati menurut Imam al-Ghazali ada empat macam: 

  • pertama, hati yang terangkat/naik saat kita berzikir kepada Allah;
  • kedua, hati yang terbuka bila kita ridho kepada Allah SWT;
  • ketiga, hati yang turun bila kita sibuk dengan selain Allah SWT dan;
  • keempat, hati yang berhenti/mati ketika kita lalai dari Allah SWT.

Selanjutnya beliau menjelaskan indikator dari keempat macam hati tersebut. Untuk memiliki hati yang terangkat/naik maka yang hendaknya dilakukan adalah:
Pertama, adanya kesesuaian yaitu kesesuaian perilaku kita dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.
Kedua, tidak adanya mukholafah yaitu prilaku kita tidak menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Ketiga, senantiasa ada kerinduan. Kerinduan untuk beribadah dan kerinduan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Bukankah salah satu tanda cinta kepada Allah adalah kita senantiasa rindu kepada-Nya, rindu untuk berjumpa kepada-Nya. Rasa rindu ini hendaknya kita rawat sehingga menjadi motivasi serta inspirasi kita untuk beribadah. Ketika rindu bersemayam di hati, kita kembalikan kepada sang pencipta hati dengan cara bersujud, berzikir dan berdoa  serta merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya.

Sementara untuk hati yang terbuka, indikatornya adalah:
Pertama, tawakkal (kepasrahan). Sejatinya seorang muslim memiliki kepasrahan karena salah satu makna Islam itu tunduk dan pasrah. Hanya makna tawakkal ini yang mungkin perlu diluruskan. Dalam tawakkal ada ikhtiar. Jadi tawakkal dan kepasrahan kita adalah tawakkal/kepasrahan yang aktif bukan pasif.  Namun yang hendaknya kita fahami juga adalah bahwa dalam kepasrahan dan sikap tawakkal sejatinya kita sadar bahwa sebaik-baik rencana kita, tentu lebih baik rencana yang Allah tentukan buat kita. Dengan tawakkal inilah justru kemuliaan kita akan nampak, karena orang yang bertawakkal itu tidak akan bergantung kecuali kepada Allah SWT.

Indikator kedua dari hati yang terbuka adalah memiliki kejujuran. Jujur merupakan kata yang sangat sederhana, hanya terdiri dari lima huruf tetapi pengaruhnya bagi yang memiliki sangat luar biasa. Karena kejujuran itu akan membawa seseorang kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarnya ke surga yang Allah janjikan.             

Sahabat Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:


عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kamu berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Jika seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dai akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur…."

Indikator terakhir adalah keyakinan. Dalam hal ini kita harus yakin bahwa sesunguhnya kita yang butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. Keyakinan seperti ini akan mengantarkan kita untuk taat kepada-Nya.Karena hakikatnya ketaatan yang kita lakukan itu untuk kebaikan kita sendiri dan tidak berpengaruh kepada kekuasaan Allah SWT. 
Dalam hadits qudsi sebagaimana dikutip dalam kitab Nashoih al’Ibad dan juga di al-arbain an-Nawawi dijelaskan bahwa seandainya  manusia dan jin berada dalam keadaan paling bertaqwa, niscaya tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun pada kerajaan Allah. Begitu pula dalam kedurhakaan tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

Keyakinan bahwa kita butuh Allah yang mengantarkan kita taat kepada-Nya, hendaknya diiringi dengan keyakinan bahwa Allah selalu melihat kita dalam kondisi apapun sehingga hal ini mendorong kita untuk berhati-hati dalam bertindak dan beramal. Karena kita juga harus yakin bahwa amal kita yang berupa kebaikan akan mendapat balasan berupa pahala dan amal kita yang berupa keburukan akan mendapat balasan dan kita pertanggungjawabkan nanti di yaumil qiyamah.

 فَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَّرَهٗ # وَمَنۡ يَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ   

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. ( Q.S. Al-Zalazalah : 7-8)



Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh in syaa Allah.
Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesebelas,  08062020)




Artikel terkait :


Minggu, 07 Juni 2020

"OBAT HATI YANG MATI"

Renungan Shubuh
Ahad, 07/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Bahasan tentang hati yang keras kemarin, ada sahabat yang minta untuk diuraikan lebih dalam. Renungan shubuh kali ini kita coba membahas hal tersebut tentu dalam kapasitas keilmuan saya yang masih perlu banyak belajar dan mengaji kembali kepada guru dan ulama-ulama kita.

Tidak sedikir ulama yang mengupas tentang faktor penyebab hati menjadi keras, namun secara garis besarnya adalah karena  perbuatan dosa dan maksiat serta lalai dari perintah Allah SWT (masih ingat surat az-Zumar ayat 22 …silahkan ditengok kembali).
Rasulullah SAW mengibaratkan bila seseorang melakukan perbuatan dosa maka dihatinya akan muncul titik-titik hitam. Dan titik-titik hitam ini akan semakin banyak dan bisa menutupi hatinya (cahaya yang ada di hatinya) bila ia tidak bertobat dan terus menerus bermaksiat.Tapi bila ia bertaubat dan meminta ampun, insyaa Allah hatinya kembali dibersihkan dan cahaya hati akan kembali bersinar.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu  menutupi hati mereka’.” HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Hati yang keras ini bila dibiarkan berlanjut dan terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa, dikhawatirkan akan membatu (qulbun mayyitun), kondisi dimana seseorang secara pisik jasadnya hdup tapi hatinya mati. Dan bila sudah dalam kodisi seperti ini, disitulah seseorang justru merasakan nikmat ketika bermaksiat dan merasa tidak nyaman saat beribadah. Bukan sebaliknya, nikmat dalam beribadah dan tidak nyaman dalam bermaksiat. Kondisi hati yang seperti ini Imam al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul al-Arifin, menyebutnya dengan istilah "Waqf al-qolbi", hati yang berhenti/mati..

Lalu apakah obatnya sehingga hati tidak keras dan bahkan bisa lembut sehingga mudah menerima hidayah taufik dan mudah melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Untuk melembutkan hati, berikut hal-hal  yang  hendaknya diperhatikan dan dilakukan:

1. Memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah :
ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رجلاً شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال: "إن أردت أن يلين قلبك فأطعم المساكين وامسح رأس اليتيم"
“Apabila engkau menginginkan kelembutan pada hatimu maka berilah makan kepada orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad )

2. Banyak berzikir dan membaca al-Qur-an dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya). Firman Allâh SWT:
 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 
“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram (Q.S ar-Ra’d: 28).

3. Memohon kepada Allâh agar hati bisa khusyu’. Salah satunya dengan membaca doa seperti yang diajarkan Rasulullah SAW:

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا         

“Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

4. Memperkaya ilmu terutama ilmu keislaman dan hikmah yaitu suatu kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih sebagaimana dikatakan oleh Imam Muh. Al-Ghazali dalam kitab ihya ‘Ulumid Din-nya.                                                                                                 
5. Berteman dan berkumpul dengan orang sholeh yang bisa mengingatkan kita kepada Allah SWT.
Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandariy dalam 'hikam'-nya mengatakan: 

لا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
“Janganlah berteman kepada orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak mengantarkan/menunjukkanmu kepada Allah.”

Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesepuluh,  07062020)


Artikel terkait :

Sabtu, 06 Juni 2020

URGENSI IMAN DALAM MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

Renungan Shubuh
06/06/2020
Oleh Ahmad Rusdi

Adalah penting untuk selalu berfikir positif dan bertindak positif, dimana hal tersebut Rasulullah SAW contohkan dalam rumah tangga beliau. Mengkondisikan rumah tangga sangat penting karena walau bagaimanapun rumah tangga akan berpengaruh pada perkembangan kondisi psikologis kita. Namun jangan lupa pula untuk mengkondisikan internal diri kita supaya mendukung terwujudnya kebahagiaan. Hal ini terkait dengan bagaimana sikap, pikiran dan hati kita dalam meraih kebahagiaan. Renungan kali ini lebih fokus pada pribadi Rasul yang merupakan contoh teladan kita untuk menggapai kebahagiaan tersebut. Salah satunya adalah dengan menjaga dan memperkuat keimanan.

Perhatian Rasul terhadap keimanan sangat luar biasa, karena keimanan fondasi utama bagi seorag muslim.  Iman merupakan sumber kebahagiaan yang terbesar. Dengan iman yang kuat seseorang akan mampu menghadapi musibah dan malapetaka, dan dengan iman pula seseorang tidak akan hanyut dengan kenikmatan dunia yang bisa membuatnya lalai kepada Allah SWT. Hal ini dicontohkan Rasulullah SAW bagaimana keimanan beliau yang demikian luar biasa yang membuat beliau senantiasa selalu ingat kepada Allah baik dalam kondisi mendapatkan musibah maupun memperoleh nikmat dan anugerah. Karena  bagi seorang mukmin, musibah maupun kenikmatan, keduanya adalah kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

« عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ »
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin itu, urusan apa saja adalah baik baginya. Dan tidak ditemukan kondisi sedemikian melainkan hanya ada pada orang-orang mukmin. Jika dia diberikan dengan sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur. Dan itulah yang lebih baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar. Dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga dan memperkuat iman, Rasululllah SAW mengingatkan kita sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Hakim dan ath-Thabrani:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ
“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”

Memperbaharui iman hendaknya dilakukan setiap saat, karena iman kita tidak seperti Rasulullah yang senantiasa bertambah (yazid wala yanqush). Iman kita di satu saat bertambah dan di saat lain justru kebalikannya yakni berkurang. Untuk menambah keimanan tentu salah satunya adalah dengan menambah ketaatan yang insyaaa Allah akan mendatangkan ketenangan jiwa dan hati. Amalan-amalan yang dapat menumbuhkan keimanan sebagaimana dikatakan Ibnu Ruslan dalam matan Zubad Ibn Ruslan:

فكن من الإيمان في مزيد #
 وفي صــــفاء القلب ذا تجديد بكثرة الصلاة والطاعات #
 وترك ما للنفس من شهوات فشهوة النفس مع الذنوب #
 موجبتــــــان قسوة القـــلوب 

Maka jadilah kamu dalam hal keimanan, bertambah
Dan untuk  memiliki kejernihan hati dengan memperbanyak sholat dan ketaatan, serta meninggalkan sesuatu yang (bisa) menimbulkan syahwat, Karena nafsu syahwat bersama dosa
keduanya faktor yang menyebabkan kerasnya hati.
Dan bila hati seseorang sudah keras hatiya maka dia akan sulit untuk mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. az-Zumar: 22)

Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras dia akan tercela dan berada dalam kesesatan. Seorang ulama benama Syaikh Malik bin Dînâr rahimahullah pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allah Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka.(lihat *Ma'alimut-Tanzil)
Biasanya orang yang hatinya keras akan bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
Bila sudah demikian (kita berlindung kepada Allah dari hati yang seperti ini), inilah yang dikatakan oleh Shohibul hikam syaikh Ibnu Athaillah as-sakandariy bahwa pada hati orang tersebut sudah terdapat tanda/ciri hati yang mati.

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

"Di antara ciri hati yang mati tak ada kesedihan bagi ketaatan yang luput dikerjakan, dan tak ada penyesalan atas dosa yang sudah diperbuat."

Untuk itulah betapa pentingnya kita menjaga, merawat dan memperkuat keimanan kita dengan dengan senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk taat dan beribadah sehingga dengan demikian kebahagiaan akan kita peroleh baik di dunia maupun di akhirat. Amiin.
Wallahu a’lam.
Kita sambung lagi esok Shubuh insyaa Allah. Semoga bermanfaat.
*Salam dari Ahmad Rusdi* (Renungan Shubuh kesembilan,  06/06/2020)
Wallahu a’lam.
Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
Drs Ahmad Rusdi, M.Pd.I
Kasi Kurikulum pada Direktorat Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren

Home: Kalibata Utara II Pancoran Jaksel





Materi selanjutnya :