Sabtu, 31 Maret 2018

"Bimbingan Pemanfaatan Internet Bagi Anak-anak" (Taklim Anak & Remaja)

oleh Abu Zaidan



بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

DK-Taklim anak dan remaja malam ahad.

Pemateri mengawali sapaan kepada anak-anak peserta taklim dengan tawaran :
"Kita mau belajar malam ini dengan serius atau santai?"
Sesaat saling bertatapan, lalu beberapa anak menjawab, "Yang serius pak !!"
Namun tak kurang banyak yang menjawab, "Yang santai sajaaaa !!"
"Baik dua-duanya saja ya.....serius tapi santai, santai tapi serius...."

"Coba sekarang apa yang saya pegang di tangan kanan saya ini?" tanya pemateri sambil mengangkat gelas air mineral di tangan kanannya.
"Aiirrrrr mineral !!!" jawab anak-anak riuh rendah
"Sebut saja 'air' ya..... Lalu ini apa ??" sambil mengangkat snack kue jatah peserta taklim di tangan kirinya.
"Kuuuueeeehhhhhh !!!" sambut anak-anak.

Pemateri kemudian meminta peserta taklim untuk bersama-sama menyebutkan benda (air atau kue) sesuai dengan tangan yang diangkat pemateri secara bergantian.

"Sekarang, coba kalian sebutkan kebalikannya ya... Bila 'air' di tangan kanan yang saya angkat, sebutkan 'kue' dan bila 'kue' yang saya angkat kalian sebutkan 'air'...."

Awalnya, beberapa anak masih kagok dan salah sebut. Tetapi setelah beberapa kali, anak-anak kemudian menjadi terbiasa dengan jawaban yang dibalik tersebut.

"Oke....cukup !!..cukup !!..."
"Ternyata mudah ya mengajak orang untuk melakukan hal yang salah..."
Seorang anak menjawab lantang, "Kan bapak yang nyuruh !!" 😂😂

"Sekarang saya tanya, siapa yang suka nonton televisi?"
Semua peserta mengangkat tangan dan berteriak, "Sayaaaaaaa !!!!"

"Lalu, coba siapa yang suka buka internet ? Baik di warnet, di rumah maupun di hand phone atau android... "
Semua peserta mengangkat tangan dan berteriak, "Sayaaaaaaa !!!!"
"Pertanyaan saya selanjutnya....apa yang kalian buka atau lihat di televisi maupun di internet ??"

"Banyak pak !! fileemmm !! sinetrooonn !!....... youtube pak bisa nonton dangdutan !!" 
"Chatting pak !!...main game pak asyiikkk !!" jawab anak-anak dengan semangat. 

"Itu saja ?!?! Ada nggak yang suka nyari bahan untuk mengerjakan tugas sekolah di internet ??"
"Iya pak saya !!..." jawab separuh dari 22 peserta taklim yang hadir.
"Oke...bagus !!! ternyata masih ada dari kalian yang bisa mengambil manfaat kebaikan dari internet."

Saat anak-anak diminta menyebutkan mengenai hal apa saja yang dapat dilihat, disaksikan dan didengar ketika mereka mengakses internet, misalnya, saat main game online, maka sambil menyebutkan sebuah judul game online beberapa anak menjawab dengan lugas :
"Pakaian orang-orangnya yang perempuan 'ngga' jelas pak !! keliahatan pusernya.....terus kalau ada yang kalah, pemeran dalam game-nya biasanya ngomong kasar (mengumpat) pak !!"
"Hal-hal tersebut sesuai ngga dengan tuntunan Islam ??" tanya pemateri.
"Tidaaakkkk !!" serentak anak-anak menjawab.

Sekilas dialog dengan anak-anak tersebut, kiranya dapat membuka kesadaran kita, bahwa dasar fondasi agama dari anak-anak sebetulnya sudah ada. Baik yang mereka dapat melalui pembelajaran dan bimbingan langsung dari orang tua di rumah; melalui pelajaran agama di sekolah ataupun yang didapat dari pengajian/taklim yang mereka ikuti. Mereka sudah tahu hal perbuatan yang baik dan yang buruk menurut Islam. 
Namun karena kita hidup di era keterbukaan informasi, jika orang tua tidak mendampingi dan membimbing anak-anak saat menggunakan media-media informasi, maka lambat laun akidah akhlak dari anak-anak kita akan semakin terkikis. Akidah dan akhlak anak-anak kita akan rusak tergerus oleh derasnya gempuran nilai-nilai yang tidak sesuai dengan aturan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Kemudian pemateri memaparkan kepada anak-anak, bahwa saat kita mengakses internet atau sering disebut dunia maya, banyak hal yang dapat kita jumpai. Baik pengetahuan yang bermanfaat maupun hal buruk yang dapat merusak nilai-nilai akidah akhlak terpuji yang selama ini kita taati.

Pemateri kembali bertanya :
"Saat kalian membuka, menyaksikan gambar maupun tayangan film atau video di internet yang isinya tidak sesuai dengan tuntunan agama...... tahukah kalian ada hal-hal buruk yang secara tidak sadar sedang ditanamamkan di otak atau pikiran kalian ??"
Anak-anak terdiam.

Sejurus kemudian, pemateri mengajak peserta taklim mendekat, mengelilingi permadani besar ukuran 2x3 meter yang berada di mihrab imam Masjid DK. Rekal dengan mushaf Al Quran di atasnya diletakkan tepat di tengah-tengah permadani. Selanjutnya anak-anak diminta untuk mengambil mushaf Al Quran tersebut dengan syarat tanpa menginjak permadani. Sesaat anak-anak mencoba dengan berbagai cara, kemudian menyerah.




Mushaf Al Quran di atas rekal 

Pemateri kemudian menunjukkan caranya, yaitu dengan menggulung salah satu sisi permadani sampai mendekati tengah sehingga Al Quran dapat diambil tanpa menginjak permadani tadi.
"Kita simpan dulu pertanyaan di kepala kalian !!"
"Mari kita buka Quran Surah Al Baqarah ayat 217" ajak pemateri kepada anak-anak.


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.


Dari Q.S. Al Baqarah (217), Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan kepada kita bahwa musuh-musuh Islam tidak akan ada henti-hentinya memerangi kita, hingga kita mengikuti mereka, hingga kita keluar dari perintah-perintah Allah atau menjadi kafir. Mereka tidak suka melihat umat Islam menjadi kuat, kuat iman akidahnya, maju ilmu pengetahuannya, pandai generasi mudanya.

Musuh-musuh Islam, yaitu mereka golongan kaum kafir, musyrikin dan munafik, selalu berusaha memerangi umat Islam dengan berbagai cara. 
Hari ini, ketika mereka tidak berani memerangi secara terang-terangan umat muslim Indonesia, mereka gencar menggunakan media informasi dan internet. Tujuan akhirnya adalah merusak akidah dan akhlak generasi muda Islam.

Mereka sadar akidah kita sulit untuk digoyahkan dengan cara kekerasan, maka mereka mencoba melemahkan generasi muda melalui media-media informasi, melalui dunia maya/internet. Melalui tayangan media hiburan yang melenakan maupun melalui media informasi yang mengaburkan batas antara kebenaran dengan kebatilan.

Aplikasi hiburan dan game online yang berisi muatan yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam. Selain tidak sesuai dengan norma-norma Islam, game-game tersebut juga membuat kita kecanduan, lupa waktu, malas mengerjakan aktifitas lain yang menjadi kewajiban, seperti melupakan kewajiban sholat lima waktu dan belajar.     

*****

>>> "Peragaan di awal tadi, merupakan contoh sederhana bagaimana kalian disesatkan dengan pelan-pelan dan tanpa sadar" kata pemateri kepada anak-anak.

>>> "Kemudian pada peragaan kedua adalah contoh sederhana, saat umat Islam dan generasi mudanya yang sudah dilemahkan akidahnya, menjadi malas dan bodoh secara intelektual....maka tanpa harus diserang atau perang dengan menggunakan senjata-senapan, bom dan tentara, musuh-musuh Islam akan 'menggulung' kalian. Sumber segala sumber ilmu dan ajaran kita yaitu Al Quran dan hadits, kemudian akan mereka gantikan dengan nilai-nilai yang sesat dan menyesatkan."

.....Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup..... (Q.S Al Baqarah: 217)

*****

"Coba saya tanya, kalau kalian membuka internet di komputer menggunakan program atau aplikasi apa ??"

Anak-anak menjawab riuh bersahutan, menyebutkan beberapa nama aplikasi web browser.
Web browser adalah suatu program/ software yang digunakan untuk menjelajahi internet atau untuk mencari informasi dari suatu web yang tersimpan di dalam komputer. Jawaban anak-anak, membuktikan bahwa mereka tidak gaptek, gagap teknologi. Peserta taklim yang terdiri dari anak kisaran kelas 3 SD sampai dengan kelas 10 SMA sudah mengenal beberapa nama-nama web browser. Dan kita yakin mereka sudah akrab dan biasa menggunakannya.

"Adakah nama-nama dari aplikasi browser, aplikasi game, aplikasi untuk chatting, tersebut yang bernama Islam ?? Mengapa ??"
Salah satu anak menjawab, "Tidak ada pak, karena yang membuat bukan orang Islam !!"

"Oke......kira-kira lima atau sepuluh tahun yang akan datang, bisa ngga generasi muda Islam seperti kalian menciptakan aplikasi semacam itu ??"
Sambil menunjuk kepada beberapa anak peserta taklim (Rasyid, Arsya, dan Mutia) pemateri melanjutkan obrolannya :

Sehingga suatu hari nantiakan lebih asyik ketika kita akan menggunakan internet maka kita berkata, "Ehh.....ayo kita cari bahan pelajaran di aplikasi 'Rasyid' (petunjuk).... bukan lagi mbah google..."

Atau saat anak-anak akan bermain game online mereka akan berteriak, "Ayo kita main petualangan samudra di game online 'Arsya'...."

Atau suatu saat, orang akan bilang, "Tolong friend....aku di add di aplikasi 'Mutia' ya ...jadi aku bisa nge-chatt gratis dengan kamu..."

"Tentu saja aplikasi yang kalian buat nanti adalah aplikasi yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai Islam."

Beberapa anak menjawab, "Inshaa Allah bisa !!"
Tiba-tiba salah seorang anak berteriak, "Takbir !!"
Disambut oleh para peserta yang lain, "Allahu akbar !!"

Pemateri melanjutkan, "Dengan syarat mulai hari ini  kalian harus..." :

  1. Kalian harus selalu taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta patuh kepada kedua orang tua.
  2. Kalian harus rajin belajar, disiplin mengatur dan membagi waktu : waktu beribadah, waktu belajar dan waktu bermain;
  3. Kalian harus dapat memanfaatkan teknologi internet untuk hal-hal yang bernilai kebaikan dan mendukung tugas kalian dalam belajar. Dan menghindari atau menjauhi hal-hal batil saat menggunakan internet.
Beberapa pemanfaatan web browser kemudian dicontohkan langsung kepada anak-anak peserta taklim :

"Metamorfosis"
Pencarian materi pelajaran IPA kelas 5 SD 
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Rumus Bangun Datar 
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Rumus Kimia Gula
Materi pelajaran Kimia - Kelas 10 SMA
dengan aplikasi mesin pencarian (web browser)

Pencarian Surah dan Ayat dalam Al-Quran online 
dengan mesin pencarian (web browser)

Taklim diakhiri dengan doa :

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-baatila baatilan warzuqnaj-tinaabah

"Ya Allah tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya."



Taklim Anak & Remaja Malam Ahad (Sabtu, 31/3/2018)
Pemateri : Abu Zaidan/WA
Moderator : Tassa Yudistira
Supervisi : Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (Rosa Herdiansyah)

Minggu, 25 Maret 2018

"Tolong Menolong dalam Kebaikan"

oleh Ust. Sunardi


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 
(Q.S. Al Ma'idah: 2)

✻✻✻✻✻

DK-Taklim Rutin Dua Pekanan Ahad pagi ba'da Subuh.
Q.S. Al Ma'idah: 2 memuat beberapa ketentuan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala (...janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram...) yang kemudian ayat tersebut ditutup dengan :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
...Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al Ma'idah: 2)

Pada ayat ini, secara redaksional Allah Subhanahu wa Ta'ala memadukan antara perintah dan larangan. Dengan mendahulukan perintah ta’awun (tolong menolong/kerja sama) dalam kebaikan atau perbuatan baik, baru kemudian larangan ta’awun dalam keburukan atau perbuatan dosa.
Dalam ayat ini Allah mendahulukan konsep tahliyah di atas konsep takhliyah.
>> Tahliyah (تحلية) artinya menghiasi diri dengan akhlak yang baik/mulia.
Di sini Allah memerintahkan umat-Nya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang baik/mulia, berupa ta’awun (kerjasama) dalam kebaikan dan takwa.
>> Takhliyah (تخلية) artinya pelepasan/pembersihan diri dari akhlak yang buruk.
Dalam hal ini Allah memerintahkan kepada kita untuk membebaskan diri dari akhlak yang buruk berupa larangan ta’awun (kerjasama) dalam perbuatan buruk atau dosa.

*****

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan :
bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan semua hamba-Nya agar senantiasa tolong menolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan yang termasuk kategori Al-Birr dan mencegah dari terjadinya kemungkaran sebagai realisasi dari takwa. Sebaliknya Allah melarang segala jenis perbuatan batil yang melahirkan dosa dan permusuhan.

Ibnu Katsir mengemukakan hadits yang menjelaskan ayat ini sbb :
>> Hadits pertama :
"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perlakuan mereka adalah lebih baik dan besar pahalanya daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas perilaku mereka." (HR. Imam Ahmad)
>> Hadits kedua :
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi". Maka para sahabat bertanya, "Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?". Rasulullah menjawab, "Mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya". (HR. Bukhari dan Ahmad)

*****

Imam As-Sa’di mendefinisikan : 
>> Al-Birr sebagai yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bekerjasama (ta'awun) dalam segala bentuk perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah, baik perbuatan yang terkait dengan hak-hak Allah maupun hak sesama manusia.
Dalam pandangan Al-Mawardi yang dinukil oleh Al-Qurthubi bahwa perintah ta’awun (tolong menolong/kerja sama) untuk menghadirkan kebaikan dan ketakwaan di tengah-tengah manusia merupakan sebuah perintah yang memiliki korelasi dengan prinsip "hablum minallah dan hablum minannas"
Ta’awun dalam kebaikan yang bersifat umum merupakan sarana untuk menjaga hubungan baik dengan manusia (hablum minannas), sedangkan ta’awun dalam takwa merupakan sarana untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala (hablum minallah)
>> Sedangkan itsmi adalah seluruh bentuk perbuatan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, dari perbuatan yang lahir maupun yang batin.

*****

Sebagai individu, kita memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk dapat menegakkan hukum-hukum Allah dalam masyarakat demi terciptanya masyarakat yang berakhlak mulia. Sehingga hubungan kerja sama dalam kerangka menegakkan kebaikan (Al-Birr) merupakan hal yang harus dilakukan. 

Konsep ta’awun yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Q.S. Al Ma'idah: 2, sesungguhnya akan menampilkan persatuan dan keutuhan umat. Perintah ini difahami oleh Ibnu 'Asyur bersifat umum dan tidak terbatas dengan siapapun, sampai dengan non-muslim sekalipun, selama itu dalam konteks Al-Birr (kebaikan), karena berbuat kebaikan adalah fitrah manusia, milik semua manusia (bernilai universal). 

Pada tataran realita, upaya Al-I'tida' atau permusuhan biasanya juga dilakukan dengan bentuk kerja sama (ta’awun), maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar ta’awun itu diarahkan pada hal-hal yang positif, berupa kebaikan dan meningkatkan takwa manusia untuk dapat meredam dan membendung derasnya arus kemaksiatan dan permusuhan yang juga dibangun dengan prinsip ta’awun.

"...dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..."

Bentuk ta’awun secara aplikatif oleh Al-Qurthubi dijelaskan dalam kitab tafsirnya, sebagai contoh beberapa bentuk ta’awun yang bisa dilakukan berdasarkan ayat ini, diantaranya: seorang alim membantu manusia dengan ilmunya, seorang yang kaya membantu orang lain dengan hartanya, seorang yang berani membantu dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan begitu seterusnya.
  • Seorang alim membantu manusia dengan ilmunya. Misalnya melalui majelis taklim di Masjid DK ini, ustad/guru membantu memberi pemahaman terkait hukum-hukum agama kepada para jamaah, 
  • Seorang yang kaya membantu orang lain dengan hartanya. Misalnya dalam hidup bertetangga/ bermasyarakat di perumahan TRB ini, seorang yang kaya/berkelebihan harta membantu tetangga yang berkesusahan secara ekonomi, 
  • pengurus RT, RW, DKM dan warga bahu membahu bekerja sama membina anak-anak dan remaja melalui kegiatan-kegiatan yang positif.
  • dan seterusnya.....
Masing-masing membantu orang lain, tolong menolong, bekerja sama, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Sehingga semestinya, akhlak yang mulia menjadi warna keseharian dari masyarakat dimana umat muslim itu tinggal atau berada. Dan Islam yang rahmatan lil'alamin, Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, akan menjadi kenyataan.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu... (Q.S. Al Ma'idah: 3)

Wallahu a'lam
(Dan Allah yang Maha Mengetahui)



"Langit Syuruq di Lantai DK" : Taklim Ba'da Subuh
@25/3/2018

Taklim Ahad Pagi Ba'da Subuh (Minggu, 25/3/2018)
Pemateri : Ust. Sunardi
Moderator : Ust. Guntur Widodo
Dok. : Abu Zaidan/WA
>> Bidang Dakwah & PHBI

Sabtu, 24 Maret 2018

"MENGENALI GAYA BELAJAR KITA" (Taklim Anak & Remaja)

DK-Taklim Anak & Remaja Malam Ahad.
Mengisi materi taklim malam ahad kali ini adalah Bapak Tri Priyogo. Membawakan materi "Bagaimana mengenali gaya belajar kita" dengan model pembelajaran "Visualization, Auditory, Kinestetic" atau disingkat VAK. Model pembelajaran VAK merupakan gaya yang menggunakan 3 macam sensori dalam menerima informasi yaitu penglihatan (visualization), pendengaran (auditory), dan gerak (kinestetic).

Pemateri menyampaikan, bahwa meskipun kebanyakan anak memiliki kemampuan untuk menangkap materi pelajaran dengan gabungan ketiga hal tersebut, yaitu : penglihatan (visualization), mendengaran (auditory), dan gerak (kinestetic), namun seringkali anak mempunyai kecenderungan yang lebih kuat pada satu dari tiga aspek tersebut. Ini yang kemudian memberi anak atau orang pada umumnya bakat dan kekurangan alami tertentu.

Selanjutnya dengan metode VAK, anak-anak peserta taklim diajak mengenali bagaimana mengenali gaya atau cara pembelajaran yang sesuai dengan potensi kecenderungan penangkapan (sensori) masing-masing dari mereka. Sehingga dengan mengenali gaya pembelajaran yang sesuai maka anak-anak akan dapat secara efektif dan efesien menangkap materi dalam proses belajarnya.

24/03/2018

1. Gaya Visual (Belajar dengan cara melihat)
Belajar menggunakan indra mata. Proses belajar dengan cara mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media/ alat peraga. Seorang anak lebih suka melihat gambar, suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.
Bagi anak yang bergaya visual yang memegang peranan penting adalah mata/ penglihatan. 
Sehingga metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititikberatkan pada peragaan atau media, mengajak anak ke obyek-obyek yang berkaitan dengan materi pelajaran tersebut atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung atau menggambarkannya dipapan tulis.
Ciri-ciri anak yang lebih dominan memiliki gaya belajar visual misalnya lirikan mata ke atas bila berbicara dan berbicara dengan cepat. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat behasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. 
Anak cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Siswa berfikir menggunakan gambar-gambar di otak dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual

2. Gaya Auditori ( belajar dengan cara mendengar)

Belajar dengan kecenderungan mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, mengemukakan pendapat, gagasan, menanggapi dan berdiskusi
Anak dengan kecenderungan ini lebih suka belajar dengan cara mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat, dan instruksi (perintah) verbal. Alat perekam sangat membantu pembelajaran anak tipe auditori. 

Setelah membaca sesuatu yang baru, deskripsikan dan ucapkan apa yang sudah dibaca tadi sambil menutup mata dengan suara lantang. Dengan cara ini, ketika mengingat dengan mata tertutup dan dideskripsikan dengan lantang, maka secara otomatis telah belajar dan menyimpannya dalam multi-sensori.
Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar auditori misalnya lirikan mata ke arah kiri/kanan, mendatar bila berbicara dan sedang-sedang saja. Untuk itu, guru sebaiknya memperhatikan anak hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset/rekaman suara.

3. Gaya belajar Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Anak dengan kecenderungan ini lebih suka belajar dengan cara bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri gerakan tubuh aktivitas fisik. Anak kinestetik belajar dengan cara mengalami dan melakukan sendiri dari materi yang sedang diajarkan. 

Ciri-ciri anak yang lebih dominan memiliki gaya belajar kinestetik misalnya lirikan mata ke bawah bila berbicara dan berbicara lebih lambat. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. 

24 Maret 2018

❇❇❇❇❇❇❇

Taklim Anak & Remaja, Sabtu, 24/3/2018
Pemateri : Tri Priyogo
Moderator : Tassa Yudistira

Supervisi : Bidang Pembinaan Anak, Remaja & Seni Budaya Islam (Rosa Herdiansyah)